Bakti dan Taat, Jalan Menuju Keluarga Bahagia

NABI Ibrahim menyampaikan kepada puteranya, Ismail, bahwa beliau diperintahkan untuk menyembelihnya. Ismail tak menolak, dengan ridla menyampaikan kepada ayahandanya agar segera dilaksanakan perintah itu dan menjaminkan dirinya untuk bersabar menjalani perintah itu. Ismail kemudian tak jadi disembelih, digantikan domba. Beliaupun menjadi manusia mulia, mulia di dunia dan mulia di akhirat.

Nabi Nuh mengajak puteranya untuk naik ke dalam perahu yang dibuatnya agar selamat dari kematian, selamat dari gempuran banjir yang pasti membuhuhnya. Puteranya itu menolak dengan sombongnya. Diapun mati tenggelam, mati mengenaskan tanpa iman. Dia pun terhina di dunia dan di akhirat.

Ternyata, ada model anak yang berbakti kepada orang tuanya seberbakti-baktinya sampai tak ada ruang menolak dan mengecewakan orang tuanya. Ada pula model anak yang melawan untuk taat kepada orang tuanya semelawan-lawannya sampai diajak hidup bahagiapun tak mau. Model yang manakah kita dan anak-anak kita?

Kalaulah kita seorang anak, marilah kita selalu taat kepada kedua orang tua kita. Tak ada orang tua yang berhasrat mencelakakan anak. Orang tua selalu berharap bahagia untuk anaknya, bahkan lebih dari keinginannya untuk kebahagiaan dirinya. Kalaulah kita adalah orang tua, janganlah lelah mengajak anak untuk selamat dan bahagia. Jangan pernah capek berdoa menangis kepada Allah untuk anak-anak kita.

Doa saya pagi ini, semoga kita semua menjadi hamba-hamba pilihan yang mulia bahagia bagai mulia bahagianya keluarga Nabi Ibrahim. Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...