Etika Bertamu: Punya Perasaan Itu Nikmat

SEBAGIAN orang saat berkunjung ke rumah kawannya duduk semaunya sendiri dan tidak mau duduk seperti dipersilahkan tuannya. Bahkan, terkadang lebih dari itu. Sebagai contoh, ketika si tuan rumah mengatakan, "Sebaiknya Anda duduk di sini." Ia malah berkata, "Tidak, saya ingin santai di sini." Aneh sekali! Siapa tahu dengan duduk di tempatnya itu, ia membuat rumah terlihat terbuka. Hal itu akan membuat orang-orang di dalamnya tidak enak.

Awalnya, tuan rumah mengharapkan ia mau memenuhi keinginannya. Hanya saja, ia malu dan tidak mampu menjelaskan keinginannya itu. Perasaannya pun serasa membeku! Sampai akhirnya tuan rumah kesal dan capek, ia pun menjelaskannya, "Andai saja Anda mau pindah dari tempat Anda ke sini. Biar istri saya bisa sedikit bergerak." Barulah ia berkata, "Maaf!"

Termasuk sunah, Anda tidak duduk di rumah orang yang Anda kunjungi, kecuali di tempat yang disediakan tuan rumah. Berusahalah untuk memiliki etika yang luhur. Karenanya, jangan pernah duduk di suatu tempat kecuali Anda diizinkan. Itu adalah bagian dari etika Islam. Rasulullah saw berkata, "Salah seorang di antara kalian jangan pernah duduk di singgasana orang lain kecuali dengan izinnya."

Apakah orang-orang senang pada orang lain yang memiliki semua kepekaan emosi dan etika-etika Islam ini atau tidak? Apakah ia disebut orang yang beradab atau tidak? Ingat, peradaban bukan hanya teknologi dan sistem pengetahuan modern. Peradaban justru lebih ditekankan pada etika, kepekaan emosi, dan kemajuan karakter. [amru muhammad khalid]



Sumber: Inilah.com
loading...