Penyalinan Buku dalam Peradaban Islam

Menebar ilmu telah lama menjadi tradisi umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menebar ilmu telah lama menjadi tradisi umat Islam. Upaya itu tak hanya dilakukan secara lisan, tapi juga tulisan. Banyak karya cendekiawan Muslim yang diketahui secara luas dan menjadi rujukan serta sumber ilmu pengetahuan.

Tampaknya, keterbatasan seperti belum lahirnya alat atau mesin yang berguna sebagai pengganda, tak merintangi langkah itu. Lalu, muncullah tradisi yang sangat memainkan peran dalam menebarkan ilmu, yaitu melalui penyalinan buku.

Baca: Kertas, Buku, dan Kejayaan Peradaban Islam

Biasanya, pakar ilmu sastra dan cendekiawan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, menyalin sendiri karya-karyanya untuk diperbanyak dan disebarluaskan. Ia kemudian menjelma menjadi seorang penyalin buku dengan sebutan waraq.

Para cendekiawan mempunyai alasan saat memutuskan untuk menyalin sendiri bukunya, yakni agar dapat mempelajari dengan lebih baik buku yang mereka tulis. Pun, dengan menyalinnya sendiri, mereka memastikan kandungan buku yang disalin itu benar dan tak ada kesalahan.

Ada pula, cendekiawan yang mempekerjakan penyalin buku guna menyalin karya mereka. Langkah ini bertujuan agar pekerjaan para cendekiawan tersebut lebih ringan sehingga bisa berkonsentrasi untuk menuliskan karya lainnya.

Seorang penyalin buku juga sering menerima pesanan salinan beberapa bagian dari sebuah karya yang sangat tebal. Di dunia Islam, tradisi menyalin per bagian buku disebut dengan pecia dan tradisi ini telah berlangsung lama.

Tradisi penyalinan berkembang pesat seiring munculnya teknologi pembuatan kertas di dunia Islam pada abad ke-8.



Sumber: Republika.co.id
loading...