Sugen Threen: Mimpi yang Berbuah Hidayah

Ia pernah menjadi debt collector dan selalu minta doa dari kiai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Mimpi yang menghampiri tidurnya di suatu malam di penghujung September 2005 seakan menjadi pembuka jalan hidayah bagi Sugen Threen. ''Dalam mimpi tersebut saya mengenakan pakaian gamis, bersorban lengkap dengan selendang sedang berdakwah,'' ujarnya membuka pembicaraan dengan Republika.co.id, belum lama ini.

Setelah mendapat mimpi seperti itu, pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1969, ini lantas menemui seorang ulama kenalannya yang bermukim di daerah Cibarusah, Bekasi. Kepada ulama tersebut, Sugen menceritakan mimpi yang didapatnya. ''Mimpi bagus datangnya dari Allah, mimpi buruk datangnya dari setan,'' begitu jawaban sang kiai kala itu.

Mendapat jawaban seperti itu, Sugen merasa bahwa mimpi yang datang dalam tidurnya itu merupakan sebuah mimpi bagus. Ia pun teringat dengan perkataannya sendiri tatkala sang ulama memintanya untuk masuk Islam jauh sebelum ia mendapatkan mimpi itu.

Waktu itu ia berkata, ''Buat apa masuk Islam, sedang orang Islam sendiri banyak yang tidak benar. Kalau Allah menyuruh secara langsung, saat itu juga saya akan masuk Islam.''

Setelah melakukan diskusi dan merenung, Sugen pun dengan mantap memutuskan masuk Islam. Peristiwa tersebut terjadi tepat 10 hari sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 2005. Di hadapan KH Abdul Haq Hamidy, sang guru spiritualnya, ia mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam. Dengan dibimbing oleh KH Abdul Haq Hamidy, ia pun mengucapkan syahadat.

Setelah resmi menjadi seorang mualaf, hari-harinya ia isi dengan belajar shalat wajib lima waktu. Semua itu, ia pelajari secara autodidak, baik melalui buku-buku agama maupun melihat secara langsung gerakan orang shalat.

''Saya awalnya belajar shalat dari buku. Lalu, saya catat. Suatu hari, ketika ikut shalat berjamaah, catatan saya bawa. Sambil mengikuti shalat berjamaah, saya memerhatikan catatan tersebut. Akibatnya, jamaah di samping saya bingung dengan tindakan saya,'' ujar Sugen mengingat memori masa lalunya belajar Islam.



Sumber: Republika.co.id
loading...