Tak Sembarang Orang Menjadi Penyalin Buku

Mereka mesti menguasai beragam ilmu pengetahuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tradisi penyalinan buku melahirkan para penyalin buku. Bukan sembarang orang yang bisa menjadi seorang penyalin. Mereka mesti menguasai beragam ilmu pengetahuan. Ini diperlukan agar si penyalin memahami isi buku yang disalinnya.

Dengan demikian, penyalin buku bisa meminimalkan risiko membuat kesalahan dalam menyalin buku. Paling tidak, ada sejumlah sosok yang dikenal piawai dalam menyalin buku. Mereka sering diminta bantuannya untuk menyalin buku.

Ahmad ibn al-Hutai'ah Al-Maghribi

Dia merupakan seorang ulama serta ahli Alquran yang hidup pada abad ke-11 dan berasal dari Fez. Ia sempat tinggal di Suriah dan akhirnya menetap di Kairo, Mesir. Ia dikenal pula menguasai filologi dan kajian sastra.

Untuk menghidupi keluarganya, Al-Maghribi menjadi seorang penyalin buku. Ia dibantu oleh istri dan seorang anak perempuannya dalam menjalankan pekerjaannya. Tulisan ketiganya hampir tak bisa dibedakan sehingga mereka sering menyalin sebuah buku secara bersama-sama.

Misalnya, Al-Maghribi menyalin bab pertama dari sebuah buku, sedangkan istrinya menyalin bab kedua, lalu putrinya menyalin bab-bab selanjutnya. Namun, salinan yang dilakukan tiga orang berbeda itu memiliki kualitas yang sama baiknya.

Beberapa buku yang mereka salin adalah buku kajian sastra, fikih, dan hadis. Hasil salinan buku-buku tersebut lalu dijual di toko bukunya sendiri. Buku salinan mereka banyak diminati ulama terkemuka di Kairo. Sebab, salinan mereka dianggap sangat cermat.

Al Ukhbari

Al Ukhbari merupakan ulama fikih sekaligus seorang penyalin buku yang sangat sukses. Ia hidup pada abad ke-10. Ia bisa mendapatkan penghasilan sebanyak 25 ribu dirham dari pekerjaan menyalin buku ini. Ia sangat piawai menyalin kumpulan syair Al-Mutanabbi yang terangkum dalam Diwan.

Salinan dari syair Al-Mutanabbi itu dijual oleh Al Ukhbari dengan harga sebesar 150 dirham per buku. Tak jarang pula, ia menjual buku salinan tersebut dengan harga 200 dirham per buku.

Abu Abdillah Al-Azadi

Selain menjalani pekerjaan sebagai penyalin buku, Al-Azadi juga memiliki toko buku dan alat-alat tulis, yang biasa digunakan sebagai tempat menyalin buku. Toko itu sering kali menjadi tempat bertemu dan berdiskusi para ahli sastra.

Abu Muhammad al-Anshari

Penyalin buku lainnya, Abu Muhammad al-Anshari, merupakan seorang ahli sejarah sekaligus penyalin buku. Buku-buku yang disalinnya menjadi sumber materi sejarah. Sebab, ia menyalin buku karya sejarawan, seperti Ibn al-Dunya, al Baghawi, dan Ibn al-Marzuban



Sumber: Republika.co.id
loading...