Akulah Pemimpin yang Lupa Diri dan Arogan

BEKERJA di sebuah perusahaan besar ternama dengan jabatan tinggi sesuai harapan ku sejak dulu kini telah ada di hadapan ku dan sedang aku jalani. Namun dari sinilah sifat buruk dan lupa diri ku dimulai. Sungguh, sebenarnya ada rasa malu saat aku menulis ini, tapi harus kulakukan.

Sebelum aku berhasil menduduki karier dan jabatan sebagai Dirut sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Adalah Eko, seseorang yang selalu bersamaku dan membantuku sejak aku masih karyawan tambang biasa sampai akhirnya menjabat sebagai Dirut.

Pak Eko, aku biasa memanggilnya. Usianya mungkin 3 tahun lebih tua dari ku, berperawakan kurus, berkulit gelap dan tidak terlalu tinggi. Dia sangat ahli memperbaiki apapun yang rusak, mulai dari ac, listrik, saluran air, atau apapun itu yang berhubungan dengan teknisi, beliau adalah ahlinya.

Jujur, posisi ku saat ini membuat ku sedikit lupa diri dan sedikit arogan, kusadari itu. Aku selalu menuntut kesempurnaan, begitu juga hasil kerja seluruh bawahan ku harus sempurna. Aku tak mau tahu kendala apa yang mereka alami, yang aku tahu adalah hasil kerja yang cepat, tepat dan tentunya harus sempurna.

Bahkan aku tidak akan segan-segan untuk memecat karyawan yang aku anggap kurang bagus hasil kerjanya, sekalipun karyawan itu telah bertahun-tahun bersama ku. Selain memecat, entah sudah berapa orang yang mengundurkan diri dari perusahaan, tentunya karena kearoganan sifatku.

Aku tahu perihal itu, dan aku tak ambil pusing. Karena buat ku, akan banyak orang yang melamar di perusahaan ku. Aku tidak butuh mereka yang tidak becus kerjanya. Astaghfirullah, sungguh sombong nya aku saat itu.

Saat itu, perusahaan ku tengah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan tamu sekaligus calon mitra bisnis perusahaan dari luar negri, Singapore. Barang tentu semua karyawan dari seluruh divisi melakukan persiapan dari semua hal, dokumen-dokumen kerjasama, bahan-bahan presentasi, ruangan rapat,dan sebagainya.

Dan aku sibuk mempersiapkan diri sendiri untuk menyambut kerjasama itu. Hingga pada saat aku tahu AC di ruang rapat utama bocor, dan aku segera memanggil-manggil pak Eko dengan begitu keras penuh amarah. Padahal bila aku bisa sedikit lebih tenang dan sabar tentu hal itu bisa diselesaikan.

Tapi amarah ku kian menjadi saat pak Eko tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aku marah-marah pada seluruh isi kantor, kemana pak Eko, dimana dia saat ini, apa dia tidak tahu ada AC yang bocor, apa saja kerja nya selama ini. Banyak kata-kata kasar lainnya yang kuucapkan tanpa rasa segan pada karyawan ku yang lainnya.

Hingga salah satu karyawan berhasil menghubungi pak Eko, dan mengabari ku bahwa beliau sedang pulang sebentar mengantarkan anaknya yang sedang sakit ke rumah sakit. Entah mengapa, bukannya meredup kemarahan dalam diriku, tetapi aku semakin berang, marah besar.

Sepertinya tak ada sedikit pun rasa maklum dalam hati dan fikiran ku walaupun aku telah mendengar kabar tentang pak Eko. Hingga terucaplah kalimat, "bilang sama Eko, mulai hari ini dia gak perlu balik ke kantor lagi. Dia sudah gak ku anggap kerja disini lagi mulai hari ini!!"

Aku memecatnya, ya,, memecat karyawan untuk kesekian kalinya. Padahal bisa dibilang pak Eko adalah orang kepercayaan ku, karena telah bertahun-tahun mendampingi ku tanpa pernah membuat kesalahan sedikitpun.

Dan kali ini, hanya karena mengantar anaknya ke rumah sakit dan rasa emosi ku akibat terlalu menginginkan kesempurnaan untuk menyambut kolega kerja baru yang belum tentu deal untuk bekerja sama, aku memecat orang kepercayaan ku.

Orang yang telah bertahun-tahun mengetahui semua tentang aku dan perusahaan ku, tanpa pernah berkhianat sedikit pun. Datanglah hari yang kutunggu-tunggu, pertemuan dengan tamu sekaligus kolega kerja yang baru.

Dengan sedikit kesombongan yang ada dalam diriku, aku meyakini perusahaan luar negeri ini akan menerima kerja sama ini. Pertemuan dan rapat ini berjalan dengan mulus dan sempurna, sesuai rencanaku. Tapi tidak dengan hasil rapatnya, walau semuanya telah dipersiapkan sesempurna mungkin.

Ya,, tak ada jawaban dari pihak perusahaan Singapore, sampai akhirnya mereka ternyata menolak tawaran perusahaan ku. Saat itu, aku belum merasa bahwa itu peringatan dari Allah atas sikap ku yang selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan karyawan-karyawanku.

Malah aku semakin arogan, semakin emosi, dan pemarah. Perusahaan ku menjadi berantakan, karyawan-karyawan yang sedari awal bersamaku membangun perusahaan, kini satu persatu mengundurkan diri. Dan tetap aku belum menyadari kesalahan sikap ku. Benar kata pepatah, semut di ujung pulau selalu terlihat, namun gajah di pelupuk mata tak terlihat.

Hingga akhirnya Allah benar-benar menyadarkan ku dengan kondisi perusahaan yang berada diujung tanduk, hutang ku dimana-mana, perusahaan tidak menghasilkan, satu persatu karyawan baru keluar, mengundurkan diri dengan izin, namun tak jarang mereka langsung keluar begitu saja karena tahu apa yang akan aku katakan saat mereka mengajukan surat resign.

"Kalau mau cabut, ya cabut aja, kenapa gak dari kemarin keluar. Lebih cepat lebih baik.!!" Begitulah kalimatku. Astaghfirullah. Perusahaanku mati kutu, hampir gulung tikar. Aku berada di ujung masa jaya ku. Tapi Allah Ta'ala selalu punya cara untuk menyadarkan hamba-Nya yang lupa diri dan sombong, seperti ku.

Selesai solat magrib, aku duduk termenung memikirkan hidupku, keluargaku dan perusahaan ku yang belum jelas akhirnya. Lama aku duduk termenung. Sampai suara itu menyadarkan ku, suara yang sampai saat ini kukenal jelas siapa pemiliknya. Pak eko, beliau menyadarkan lamunanku.

Gugup, canggung, aku tak mengerti apa yang terjadi pada diriku saat bertemu kembali dengan sosok baik hati ini. Dan yang terucap dari mulutku adalah permohonan maaf atas semua perlakuan kasar ku pada beliau. Beliau memeluk ku begitu eratnya, seperti tidak ada perlakuan kasar ku yang telah menyakitinya.

Betapa bodohnya aku selama ini tidak menyadari titipan Allah ini, Pak Eko begitu baik jiwanya. Sungguh kesalahan yang amat bodoh dulu aku memecatnya tanpa mendengar penjelasannya. Maafkan aku pak Eko.

Itulah awal pertemuan ku dengan Pak Eko setelah hampir setahun aku memecatnya. Pertemuan itu berlanjut kedua kali, ketiga kali, sampai pada akhirnya aku memohon diri untuk pak Eko membantu ku kembali membangun perusahaan ku yang mati suri. Sungguh, tak akan kutemui sosok seperti beliau, jiwanya sungguh iklas memaafkan dan beliau dengan senang hati membantu ku kembali.

Inilah pelajaran hidup termahal yang kualami dalam hidup ku. Aku pernah lupa diri karena harta, jabatan dan tahta, padahal semua itu tidaklah akan kita bawa sampai ke liang lahat. Belajar dari semua itu, kini aku kembali perusahaanku. Dan yang terpenting adalah "aku kembali merintis kebaikan dalam diriku, dan melayakkan diri sebagai pemimpin yang benar-benar memimpin atas beberapa karyawan ku saat ini, termasuk saudaraku, abangku, orangtuaku Pak Eko."

Dari Auf bin Malik ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Pemimpin yang bijaksana adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian selalu mendoakan atasnya dan ia selalu mendoakan kalian. Pemimpin yang terjahat adalah yang kalian benci dan membenci kalian, sedang kalian mengutuknya dan ia mengutuk kalian."

Kami bertanya: "Wahai Rasulallah, sebaiknya kita pecat saja mereka itu." Beliau menjawab: "Jangan, selama ia masih mengerjakan salat berjemaah dengan kalian." (HR Muslim)

[Chairunnisa Dhiee]



Sumber: Inilah.com
loading...