Al-Quran yang Terabaikan

AL-QURAN adalah kalamullah. Allah subhanallah wa ta'ala yang berfirman, kemudian firman ini dituliskan dalam lembaran lembaran. Dan lembaran lembaran tersebut dikumpulkan menjadi satu, sebuah Al-Qur'an. Sebuah kitabullah.

Bagi kita, kitabullah adalah sebuah tuntunan dan pedoman hidup. Ia menjadi penuntun dalam kehidupan kita sehingga hidup kita dalam koridor yang Allah ridhoi. Dan ia menjadi pedoman hidup kita sehingga kita melaksanakan perintah dan menahan diri dari larangan Allah dalam hidup kita, berdasar Al-Qur'an.

Namun sayang sebagian kaum muslimin telah dilalaikan dunia dari berinteraksi dengan Kitabullah. Di antara kaum muslimin ada yang bahkan mendengarkan Al-Qur'an pun tidak pernah --kecuali sedikit sekali, yakni saat menjadi makmum sholat berjamaah Maghrib atau isya atau shubuh, itu juga jika tidak tertinggal hingga dua rakaat.

Di antara kaum muslimin malah menyukai dan menggemari mendengarkan nyanyian fasik. Mereka menikmatinya. Subhanallah. Oleh karenanya Nabi shalallahu alaihi wasallam 'mengadukan' hal ini kepada Allah sebagaimana termaktub di QS. Al Furqon ayat 30: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan".

Dan orang-orang yang kafir berkata, "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya". (QS. Fushshilat: 26).

Berkata Ibnu Katsir tentang ayat ini,

Apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka melakukan hiruk-pikuk dan banyak berbicara tentang hal lainnya hingga orang-orang tidak dapat mendengarkannya. Ini merupakan salah satu sikap yang menggambarkan ketidakacuhan kepada Al-Qur'an, tidak mau beriman kepada Al-Qur'an serta tidak membenarkannya, termasuk sikap meninggalkan Al-Qur'an.

Termasuk sikap tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah tidak mau merenungkan dan memahami maknanya. Termasuk ke dalam pengertian tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah tidak mengamalkannya dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya, serta tidak meninggalkan larangan-larangannya. Termasuk pula ke dalam pengertian tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah mengesampingkannya, lalu menuju kepada yang lainnya, baik berupa syair, pendapat, nyanyian atau main-main, cerita atau pun metode yang diambil bukan darinya.

Interaksi paling minimal oleh kaum muslimin adalah dengan membacanya. Setiap kita InsyaAllah bisa melakukannya. Andai kita tidak bisa melakukannya, maka hanya karena dua hal. Pertama kita sama sekali belum bisa membaca Al-Qur'an, atau kedua kita tidak meluangkan waktu membaca Al-Qur'an.

Bila kita belum bisa membacanya, maka bersegeralah belajar. Dan bila kita tidak meluangkan waktu untuk membacanya, maka bersegeralah bertaubat dan kemudian membacanya. Mentadabburi atau mempelajari Al-Qur'an tidak mungkin terwujud bila kita tidak membacanya. Padahal mentadabburi Al-Qur'an adalah kewajiban. Agar kita bisa memahami isinya sehingga kita pun bisa memahami apa yang diinginkan Al-Qur'an sebagai pedoman dan tuntunan hidup kaum muslimin.

Semoga Allah memberikan hidayah taufik kepada kita untuk rutin membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Aamiin. [Quraniy]



Sumber: Inilah.com
loading...