Allah Mahadekat

Sering kali kita merasa jauh dari Allah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Inayatullah Hasyim

JAKARTA — Sering kali kita merasa jauh dari Allah, doa-doa kita susah untuk didengar dan dikabulkan oleh-Nya. Akibatnya, kemalasan bermunajat pun menghampiri diri kita pelan-pelan. Padahal, dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah wahai Muhammad), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS al- Baqarah: 186).

Ayat itu menarik untuk direnungkan setidaknya pada empat hal: Pertama, dari sisi bahasa, pada teks ayat di atas, Allah SWT menggunakan kata "ibadi" bukan "a'bidi". Dua kata yang sesungguhnya punya akar kata yang sama, yaitu abdun atau hamba. Kata "ibadi" bermakna semua hamba-Ku yang beriman dengan-Ku. Tetapi, kata "a'bidi" adalah sekelompok orang saja yang benar-benar menghabiskan waktunya dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, Allah SWT menegaskan kepada setiap hamba-Nya bahwa Dia Mahadekat dengan kita tanpa membedakan, apakah kita seorang yang rajin beribadah atau biasa-biasa saja. Kiai, politikus, guru, sopir angkot, pemulung, atau apa pun pekerjaan kita, semua adalah dekat pada Allah SWT.

Kedua, ulama mengatakan, sebab turun ayat ini adalah ketika Rasulallah SAW membacakan ayat lain dalam Alquran, yaitu: "Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu'." (QS Ghafir: 60).

Lalu, orang-orang bertanya, "Ya Rasulullah, di mana dan kapan waktu yang tepat untuk berdoa?" Allah kemudian menurunkan ayat yang menegaskan bahwa Dia maha menjawab. "Dekat dan sungguh dekat." Rasulullah SAW kemudian mengabarkan pada kita bahwa, "Sedekat-dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah saat dia bersujud. Maka, perbanyaklah doa (saat sujudmu itu)."

Ketiga, pada bagian lain dalam Alquran, ketika orangorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Allah SWT, Allah menurunkan ayat dengan kata awalan "qul" (Katakanlah, wahai Muhammad). Misalnya, pada Surah al- Ikhlas, "Qul huwa Allahu Ahad" atau pada Surah an-Naas, "Qul a'udzu bir rabbin naas", dan lain-lain.

Namun, khusus pada ayat ini, Allah meniadakan kata perintah itu, padahal yang membacakan ayat tersebut adalah juga Rasul SAW. Para ahli bahasa Arab mengatakan, peniadaan kata perintah itu untuk menunjukkan kedekatan Allah dengan manusia makhluk ciptaan-Nya, tanpa terhalangi oleh siapa pun.

Sebab, bukankah dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, "Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS Qaaf: 16).

Keempat, Allah telah menegaskan pada kita bahwa Dia pasti menjawab setiap doa. Lalu, mengapa doa-doa kita masih terasa belum dijawab padahal tak pernah berhenti kita bermunajat? Di sinilah ujian kesabaran dan peran kita sebatas hamba-Nya itu dimulai. Artinya, kita harus tahu diri bahwa kita hanyalah hamba-Nya, penuh kelemahan dan kekurangan.

Oleh karena itulah, Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Sungguh, aku berdoa pada Allah untuk setiap kebutuhanku: Jika Allah berikan sesuai permintaanku aku berbahagia (hanya sekali) dan jika keinginanku tak dipenuhi, aku berbahagia (10 kali). Mengapa? Sebab, yang pertama adalah pilihanku dan—yang kedua—adalah pilihan Allah; Sungguh Dia yang Maha Menentukan apa yang kita tidak ketahui.

Karena itulah, kita harus terus berbaik sangka kepada Allah SWT sambil terus berikhtiar dalam menggapai kebaikan. Imam Ibnul Qayyim berpesan, "Jika kesulitan hidup yang engkau rasakan berkepanjangan padahal tak pernah berhenti engkau berdoa, yakinlah bahwa sesungguhnya Allah tidak ingin menjawab doamu itu saja. Dia ingin memberikanmu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya." Wallahua'lam bis showab. 



Sumber: Republika.co.id
loading...