Alpujarras, Benteng Terakhir Muslim Spanyol

Kawasan ini memainkan peran besar dalam sejarah Andalusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak jauh dari sekumpulan kafe dan plaza di Kota Granada, membentang lereng pegunungan yang tertutup salju. Di lereng itulah, terdapat desa-desa kecil yang dihuni sisa-sisa komunitas Muslim terakhir di Spanyol.

Bagi Spanyol saat ini, desa-desa kecil itu mungkin hanya memberikan peran yang tidak seberapa. Namun, pada masa lalu, mereka menorehkan pengaruh yang tidak kecil dalam sejarah besar Andalusia. Kawasan yang tenang dan elok inilah yang dinamakan Alpujarras.

Pada sekitar abad ke-15, seperti dilansir onislam.net, kawasan ini pernah bertengger di puncak kejayaan. Kala itu, Alpujarras merupakan pusat perkembangan industri sutra. Berpenduduk 150 ribu orang yang tersebar di 400 desa, Alpujarras dihuni oleh warga yang bermata pencaharian utama memproduksi sutra mentah. Sutra mentah ini kemudian dipasok untuk para perajin sutra di Granada dan Almeria.

Ulat sutra telah diperkenalkan ke Alpujarras ratusan tahun sebelumnya oleh Raja Berber di Andalusia. Hutan Alpujarras terbukti menjadi lokasi yang ideal untuk mengembangkan ulat-ulat sutra. Ulat sutra diperkenalkan ratusan tahun sebelumnya oleh raja-raja Berber di Andalusia.

Dalam hal ini, kawasan Alpujarras yang berhutan dinilai ideal bagi ekosistem serangga dan budi daya ulat sutra. Hingga saat ini, pengaruh Berber masih bisa dilihat di Alpujarras. Rumah-rumah rendah berwarna putih, yang sering kali terdapat hewan atau toko di lantai bawah. Gaya rumah seperti ini diadopsi dari rumah-rumah di Pegunungan Atlas, Maroko

Selain menernakkan ulat sutra, penduduk kawasan ini juga membuat irigasi canggih untuk mendukung pertanian di lereng-lereng curam. Ketika emir terakhir Nasrid Granada, Boabdil, menyerah kepada raja Katolik pada 1492, ia menyingkir ke wilayah pegunungan Alpujarras. Setahun kemudian, masyarakat kawasan ini mulai mengalami penindasan dari raja Katolik tersebut.

Pada tahun 1500, kerusuhan tak terbendung dan terus berkobar selama beberapa dekade. Pada 1567, Raja Philip II melarang nama-nama Arab, pakaian, dan logat Arab. Hal ini memicu pemberontakan yang menimbulkan perang gerilya selama dua tahun di Alpujarras. Perang ini berakhir ketika pemimpin pemberontakan dibunuh oleh sepupunya yang merupakan komandan militer baru yang ditunjuk Spanyol. Setelah itu, hampir seluruh penduduk kawasan ini dipindahkan ke wilayah lain di negara itu.

Kemudian, dari sekitar 400 desa yang telah makmur di masa kejayaan Alpujarras, 270 di antaranya digunakan sebagai permukiman bagi penduduk dari Spanyol Utara, sementara sisanya dibiarkan begitu saja.

Penguasa baru dari Spanyol yang Katolik itu juga membunuh industri sutra hingga bangkrut. Hutan-hutan kayu yang menjadi suplai mulberry bagi ulat sutra pun ditebang habis lalu diubah menjadi lahan pertanian dan pertambangan.

Beberapa ahli sejarah juga mengatakan, penguasa Spanyol juga melakukan penindasan lain, yakni memaksa warga Muslim dan Yahudi untuk memelihara babi dan memakannya pada akhir tahun, tepatnya saat perayaan Natal. Dengan cara ini, penguasa Spanyol pada masa itu ingin memaksa warga Muslim dan Yahudi untuk menjadi Nasrani.

Pemaksaan untuk mengonsumsi babi itu membuat Alpujarras saat ini banyak memiliki tempat makan yang tidak halal bagi Muslim. Meski demikian, bukan berarti tak ada restoran halal. Sebagai kawasan yang pernah dihuni kaum Muslim, Alpujarras juga memiliki sejumlah tempat makan halal. Salah satu di antaranya adalah Teteria Baraka di Orgiva, pasar mingguan yang hanya buka pada hari Kamis.

Selain menjual makanan halal, tempat makan ini juga menyediakan bahan-bahan pangan impor, utamanya dari Maroko dan Lebanon, seperti tahini, halawat, rempah-rempah, kue Maroko, teh, kola Makkah, harissa, azahar, atau air mawar.



Sumber: Republika.co.id
loading...