Awas, Ratapanmu Bikin Mayat Disiksa Kubur

TERDAPAT beberapa hadis yang menunjukkan hal itu, berikut di antaranya. Hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Mayit disiksa karena tangisan orang yang hidup untuknya. (HR. Bukhari 1292 & Muslim 930).

Kemudian, hadis dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati wanita yahudi yang meninggal dan ditangisi keluarganya. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Mereka menangisi wanita itu, sementara si wanita itu disiksa di kuburnya. (HR. Bukhari 1289)

Tangisan seperti apakah yang menyebabkan mayit disiksa?

Ada hadis lain yang menggunakan lafadz berbeda, "Dari Mughirah bin Syubah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Siapa yang diratapi maka dia disiksa karena ratapan yang ditujukan kepadanya. (HR. Bukhari 1291 & Muslim 927).

Kemudian, disebutkan dalam hadis Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beberapa sahabatnya pernah menjenguk Sad bin Ubadah yang ketika itu sedang dirundung kesedihan seluruh keluarganya. Melihat suasana sedih, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya, "Apa dia sudah meninggal?"

"Belum, ya Rasulullah. jawab keluarganya.Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menangis. Para sahabatpun ikut menangis. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Tidakkah kalian mendengar, bahwa Allah tidak menyiksa disebabkan tetesan air mata atau kesedihan hati. Namun Allah menyiksa atau merahmati disebabkan ini, beliau berisyarat ke lisannya -. Sesungguhnya mayit disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya. (HR. Bukhari 1304 & Muslim 924).

Dari dua hadis di atas, kita bisa memahami bahwa tangisan yang menyebabkan mayit disiksa adalah tangisan ratapan. Tangisan sebagai ungkapan tidak terima dan tidak ridha terhadap taqdir dan keputusan Allah. Bukan tangisan karena kesedihan semata. Karena menahan tangisan kesedihan, di luar kemampuan manusia. Sampaipun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau tidak bisa menahan bentuk tangisan itu.

Makna semacam ini, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asyari radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Ketika ada orang yang mati, kemudian keluarga yang menangisinya itu meratapinya dengan mengatakan, Duhai sandaran hidupku, duhai pahlawanku atau semacamnya, maka Allah menyuruh Malaikat untuk mendorong-dorong dadanya sambil ditanya, "Apa benar kamu dulu seperti itu." (HR. Turmudzi 1003 dan dihasankan al-Albani).

Kalimat semacam ini, Wahai pujaanku kenapa kau tinggalkan aku, pahlawanku, sandaran hidupku, dst. merupakan ungkapan yang menunjukkan bahwa keluarganya tidak menerima taqdir Allah dengan kematiannya. Sehingga hukuman yang diberikan Allah adalah dia dipukuli Malaikat, sambil dihina dengan pertanyaan, "Apa benar kamu seperti yang diucapkan orang itu?."

Mengapa Mayit Ikut Disiksa?

Permasalahan berikutnya, mengapa mayit turut disiksa karena tangisan mereka yang hidup? Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun. Tangisan itu adalah kesalahan keluarganya yang ditinggal mati.

Kita simak keterangan an-Nawawi,

"Ulama berbeda pendapat tentang maksud hadis bahwa mayit disiksa karena ratapan keluarganya. Mayoritas ulama memahami bahwa hukuman itu berlaku untuk mayit yang berwasiat agar dia ditangisi dan diratapi setelah dia meninggal. Kemudian wasiatnya dilaksanakan. Maka dia disiksa dengan tangisan dan ratapan keluarganya karena kematiannya. Karena dia menjadi penyebab adanya tangisan itu."

"Mereka juga mengatakan, mayit yang ditangisi keluarganya dan diratapi tanpa ada wasiat sebelumnya, maka dia tidak disiksa, berdasarkan firman Allah, (yang artinya), "Seseorang tidak menanggung dosa yang dilakukan orang lain."

"Mereka mengatakan, bahwa bagian dari kebiasaan orang arab, mereka berwasiat agar diratapi. (Syarh Shahih Muslim, 6/228). Allahu alam. [konsultasisyariah]



Sumber: Inilah.com
loading...