Bagaimana Hadapi Haters? Ini Nasihat Hanan Attaki

Rasulullah SAW tidak pernah membalas kebencian seseorang terhadapnya.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – 'Haters' atau pembenci menjadi hal yang tidak asing lagi di media sosial. Namun, 'haters' tak hanya muncul di dunia maya saja. Ustaz Hanan Attaki mengatakan, haters bisa saja muncul dari lingkungan dan orang-orang terdekat seperti keluarga. 

Dia mengatakan, sebaik apapun manusia, selalu saja ada yang membenci. Dalam lingkungan agama pun, menurutnya, bisa tidak terlepas dari para haters. Bahkan, di zaman para nabi pun, para utusan Allah selalu dihadapkan dengan haters. 

"Orang setegar Nabi pun ada haters. Nabi Yusuf dibenci oleh kakak-kakaknya sendiri. Nabi Nuh dibenci anaknya sendiri. Nabi Luth dibenci istrinya, dan Rasulullah SAW juga dibenci pamanya sendiri Abu Lahab," kata Ustaz Hanan Attaki saat menyampaikan tausiyahnya di acara Hijrah Festival 2018 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (9/11) malam WIB. 

Salah satu ayat dalam Alquran surah al-Kautsar menceritakan tentang orang yang membenci Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan, seorang bernama al-'As bin Wael begitu membenci Nabi SAW. 

Ketika salah satu anak nabi bernama Abdullah wafat, al-'As mengatakan Nabi Muhammad dengan sebutan 'abtar'. Abtar dalam bahasa Arab bisa bermakna bangkrut, rugi atau hina.

Di Arab kala itu, jika seseorang kehilangan anak laki-lakinya ia dipandang hina, karena dianggap tidak memiliki penerus. Perkataan al-'As tersebut membuat Nabi SAW bersedih. 

Salah satu yang membuat Nabi SAW juga bersedih, ialah ketika orang Yahudi yang hendak berdagang di Madinah (dulu Yastrib), mereka lantas ikut mencela Nabi SAW sebagai sebutan 'rajulul abtar (laki-laki yang mandul)'.

Sehingga, sebutan Nabi SAW sebagai 'abtar' menjadi terkenal di Yastrib. Untuk menghibur Nabi, akhirnya Allah menurunkan firman-Nya dalam surah al-Kautsar.

"Jadi, lawannya abtar itu kautsar. ketika para haters menyebut Nabi SAW abtar, para malaikat menyebut mereka kautsar. Allah membalikkan kata-kata abtar kepada para pembenci Nabi," lanjut Ustaz Hanan.

Tidak hanya itu, Nabi juga mendapat haters dari pamannya sendiri, Abu Lahab. Abu Lahab kerap mencela Nabi SAW. Sehingga, Allah kemudian membalikkan celaan kepada Abu Lahab melalui turunnya surat Al-Lahab.

Karena itulah, Ustaz Hanan mengingatkan untuk menjaga lisan dari ucapan yang buruk atau laknat. Apalagi, jika seseorang melaknat orang lain yang tidak berhak untuk dilaknat. Menurut Ustaz Hanan, laknat itu akan kembali pada orang yang melaknat. 

Dalam hadis dari Abu Darda R.A, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscara laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia (laknat) tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan ke kiri, dan jika tak menemui jalan keluar, maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika ia memang pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi." (HR. Abu Daud). 

Dalam Alquran juga ditegaskan: "Janganlah karena kalian tidak suka pada satu kaum, janganlah membuat kalian tidak lagi bersikap adil." (QS al-Maidah: 8)

Ustaz Hanan mengatakan, tidak adil yang dimaksud dalam ayat tersebut misalnya dengan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Ustaz Hanan mengingatkan untuk tidak sampai mengeluarkan kata-kata celaan terhadap orang lain. Namun, yang diperbolehkan adalah menasihati orang lain jika ia melakukan kesalahan.



Sumber: Republika.co.id
loading...