Dia Saja Sudah Menikah, Kamu Kapan?

MELANSIR dari aljazeera.com (22/05/2016), seorang wanita di China bernama Li Chenxi menyewa seorang pria tampan untuk diperkenalkan kepada keluarganya sebagai calon suami.

Keluarga dan kerabatnya telah membuatnya merasa tertekan karena hingga usianya yang telah menginjak 27 tahun, ia tak kunjung menikah. Hal ini karena adanya budaya di China melabeli seorang perempuan yang belum menikah di usia 27 tahun dengan sebutan sheng nu atau leftover women. Maknanya kurang lebih sama dengan sebutan perawan tua di Indonesia.

Tekanan yang diterima akhirnya memutuskan Li Chenxi untuk menyewa seorang pria untuk dijadikan calon suami palsu. Fenomena tersebut mulai umum dilakukan, terlihat dari adanya website-website yang menawarkan jasa penyewaan orang. Harga yang ditawarkan pun lumayan mahal. Untuk menyewa seorang pria selama satu hari dibutuhkan uang sekitar $300.

Cerita ini tentunya memberikan pelajaran dan hikmah kepada kita. Dalam Islam, berbohong dan memalsukan seseorang untuk berpura-pura sebagai calon pasangan tentu tindakan yang tidak terpuji dan dibenci agama. Namun, kita pun bisa memetik hikmah lainnya dengan menggeser sudut pandang ke arah kondisi Li Chenxi.

Bagi seorang perempuan timur (termasuk Indonesia) yang telah dewasa, memiliki kondisi yang belum menikah, lalu merasa tertekan adalah sebuah kewajaran. Karena itu, sebagai saudara sesama muslim sudah sepatutnya kita tidak memperburuk suasana dengan melayangkan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Dia saja sudah menikah, kamu kapan?"

Menikah adalah ibadah yang sangat sakral dan mulia hingga disebut sebagai ibadah yang menyempurnakan agama. Karenanya setiap muslim yang beriman dan bertakwa pasti ingin melangkah ke sebuah jenjang pernikahan. Apalagi Allah swt telah berfirman,

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS Ar-Rum: 21)

Ya, Allah Ta'ala akan melimpahkan perasaan tentram dan nyaman dalam sebuah pernikahan, sehingga merupakan fitrah seseorang untuk mengamalkannya. Namun, Allah juga sudah memiliki ketetapan-Nya sendiri tentang kapan dan dengan siapa seorang hamba akan menikah.

Ini bukan hanya sebatas ingin dan tidak ingin, tapi juga merupakan perkara tawakal dan ikhlas atas keputusan Sang Pencipta. Sebagai saudara seiman, sudah selayaknya kita memberikan dukungan alih-alih sekedar menyudutkan. Bukankah seorang saudara yang baik adalah mereka yang bisa membuat kita senantiasa mengingat Allah dan selalu menguatkan langkah kita dalam berusaha menunaikan perintah-Nya?

"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS An Nisa: 69)

[An Nisaa Gettar]



Sumber: Inilah.com
loading...