Fitnah Membawa Petaka

Sanksi fitnah tidak hanya di dunia, tetapi di akhirat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fitnah memang kerap bermasalah. Dampak yang diakibatkan bukan hanya bisa memicu cacat fisik, melainkan menyebabkan luka batin yang sulit disembuhkan.

Bagi orang yang beriman, fitnah yang ditujukan seseorang adalah bentuk ujian dan salah satu media tepat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Alhasil, doa-doa mereka yang terfitnah sangat manjur dan dikabulkan Allah SWT. Ini lantaran orang-orang yang terfitnah termasuk kategori golongan yang dizalimi.

Terkabulkannya doa orang yang teraniaya ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Rasul bersabda dalam hadis riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, bahwa ada tiga doa yang memiliki kemujaraban tinggi, salah satunya adalah doa mereka yang teraniaya. Sedangkan, dua doa yang lain ialah doa musafir dan doa orang tua kepada buah hati mereka.

Serangan fitnah biasanya semakin gencar bila menyasar figur publik, tokoh agama, atau bahkan seorang pemimpin kaum. Dahsyatnya dampak akibat fitnah terhadap seorang pemimpin, seperti yang pernah menimpa Sa'ad bin Abi Waqash.

Sa'ad merupakan satu dari sekian sahabat Nabi yang mulia. Ia berasal dari klan Bani Zuhrah dari suku Quraisy dan paman Nabi Muhammad dari garis pihak ibu. Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi yang lain, merupakan sepupu. Pada awal kehadiran Islam, Sa'ad terkenal dengan sikap antipatinya terhadap Risalah Samawi ini, tetapi berkat hidayah dari Allah SWT, ia pun akhirnya memeluk Islam dan disebut-sebut sebagai salah satu penghuni surga.

Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab, ia pernah mendapat kepercayaan dari Umar bin Khatab untuk memimpin Kufah. Segelintir orang yang benci dan iri terhadap Sa'ad mulai berkonspirasi agar Sa'ad tergeser dan tidak lagi menjadi orang nomor satu di Kufah. Berbagai cara di tempuh, tak terkecuali dengan membuat fitnah yang tak berdasar.



Sumber: Republika.co.id
loading...