Kebersihan sebagian Iman Ternyata Bukan Hadis

HAMPIR kebanyakan umat Islam menganggap bahwa "Kebersihan Sebagian dari Iman" sebagai hadis Rasulullah saw. Menurut Ustaz Muhammad Shiddiq Al-Jawi, hal itu bukanlah hadis Nabi.

Ungkapan "Kebersihan Sebagian Dari Iman" (Arab: an-nazhaafatu minal iimaan) sebenarnya bukanlah hadis Nabi SAW, namun sekadar peribahasa atau kata mutiara yang baik atau Islami.

Ringkasnya, jika ditinjau apakah ungkapan itu hadis Nabi SAW atau bukan, jawabnya bukan. Sebab tidak terdapat hadis berbunyi demikian dalam berbagai kitab hadis yang ada, sejauh pengetahuan kami. Namun kalau ditinjau apakah ungkapan itu Islami atau tidak, jawabnya Islami. Sebab ungkapan itu didukung oleh sebuah hadis Hasan (yang baik) seperti yang akan kami sebutkan.

Memang, ada hadis sahih dari Nabi SAW yang mirip dengan kalimat "Kebersihan Sebagian Dari Iman". Hadis itu adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi, "Ath-thahuuru syatrul iimaan" (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami Ash-Shaghir, II/57; Imam Al-Qazwini, Bingkisan Seberkas 77 Cabang Iman (Terj. Mukhtashar Syuabul Iman Li Al-Imam Baihaqi), hal. 66-67).

Namun arti hadis Nabi tersebut adalah, "Bersuci [thaharah] itu setengah daripada iman." Kata ath-thahuuru dalam hadis itu artinya tiada lain adalah bersuci (ath-thaharah), bukan kebersihan (an-nazhafah), meskipun patut diketahui ath-thaharah secara makna bahasa artinya memang kebersihan [an-nazhaafah] (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/6). Tetapi dalam ushul fiqih terdapat kaidah bahwa arti asal suatu kata dalam Alquran dan Alhadis adalah arti terminologi (makna syari), bukan arti etimologi (makna bahasa). Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah Juz III hal. 174 menyebutkan kaidah ushul fiqih yang berbunyi:

Al-Ashlu fi dalalah an-nushush asy-syariyah huwa al-mana asy-syariy--"Arti asal nash-nash syariah [Al-Qur`an dan As-Sunnah] adalah makna syari."

Karenanya hadis Nabi SAW di atas hendaknya diartikan "Bersuci itu setengah daripada iman", dan bukannya "Kebersihan itu sebagian daripada iman."

Suci dan bersih itu berbeda. Suci (thahir) adalah keadaan tanpa najis dan hadas, baik hadas besar maupun hadas kecil, pada badan, pakaian, tempat, air, dan sebagainya. Bersuci (thaharah) adalah aktivitas seseorang untuk mencapai kondisi suci itu, misalnya berwudhu, tayammum, atau mandi junub. (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/6). Sedang bersih (nazhif) adalah lawan dari kotor yaitu keadaan sesuatu tanpa kotoran. Sesuatu yang kotor bisa saja suci, meski ini tentu kurang afdal. Sajadah yang lama tidak dicuci adalah kotor. Tapi tetap disebut suci selama kotoran yang menempel sekadar debu atau daki, bukan najis seperti kotoran binatang.

Demikian pula sesuatu yang bersih juga tidak otomatis suci. Seorang muslim yang berhadas besar (misal karena haid atau berhubungan seksual) bisa saja tubuhnya bersih sekali karena mandi dengan sabun antikuman atau desinfektan. Tapi selama dia tidak meniatkan mandi junub, dia tetaplah tidak suci alias masih berhadas besar.

Walhasil, suci atau bersuci berkaitan dengan keyakinan seorang muslim, yang sifatnya tidak universal. Maksudnya hanya menjadi pandangan khas di kalangan umat Islam. Sedang bersih atau kebersihan berkaitan dengan fakta empiris yang universal, yaitu diakui baik oleh umat Islam maupun umat non Islam.

Kembali ke masalah hadis di atas. Kesimpulannya, yang ada adalah hadis Nabi SAW yang berarti "Bersuci Adalah Sebagian Dari Iman", dan bukan "Kebersihan Sebagian Dari Iman."

Namun demikian, kalimat "Kebersihan Sebagian Dari Iman" merupakan ungkapan yang baik (Islami), karena didukung sebuah hadits yang menurut Imam Suyuthi berstatus hasan, yakni sabda Nabi SAW : "Sesungguhnya Allah Taala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi." (HR. Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami Ash-Shaghir, I/70; Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadis Terpilih, [Jakarta : GIP], cetakan keenam, 1993, hal. 311).

Hadis di atas menunjukkan bahwa kebersihan (an-nazhafah) merupakan sesuatu yang dicintai Allah SWT. Maka dari itu ungkapan "Kebersihan Sebagian Dari Iman" kami katakan sebagai ungkapan yang baik atau Islami karena ada dasarnya dalam Islam yaitu hadis riwayat Tirmidzi di atas. Ungkapan itu dapat diberi arti, bahwa menjaga kebersihan segala sesuatu merupakan bukti atau buah keimanan seorang muslim, karena dia telah beriman bahwa Allah SWT adalah Zat Yang Mahabersih (nazhiif). Wallahu alam. []



Sumber: Inilah.com
loading...