Koin dalam Peradaban Islam

Dari keping koin terungkap hubungan ekonomi Bizantium dan negeri Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koin merupakan uang logam yang digunakan sebagai alat transaksi ekonomi dan biasanya diterbitkan secara resmi oleh pemerintah. Koin kerap memunculkan nama, gambar, tokoh, simbol, dan ide-ide yang menjelaskan tentang suatu pemerintahan.

Uang logam pertama kali dibuat oleh Bangsa Lydia yang menghuni wilayah bagian barat Turki pada abad keenam sebelum Masehi. Mereka mengecap lambang negara mereka pada potongan-potongan logam.

Sejak saat itu, koin memiliki nilai serta menjadi bukti dalam perdagangan. Selama masa hidup Nabi Muhammad SAW, negeri-negeri di Arab belum membuat koin dan Alquran jarang membahas tentang koin.

Sementara, koin emas dari kekaisaran Bizantium dan koin perak dari Persia saat itu sudah beredar. Orang-orang Arab kemudian menyebar ke Timur Dekat atau Kawasan Levant pada pertengahan abad ketujuh, dan mereka menjalin hubungan erat dengan masyarakat yang telah mengeluarkan koin selama berabad-abad tersebut.

Saat itu, Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur menguasai beberapa kawasan yang sekarang disebut Turki, Suriah, Palestina, dan Mesir. Sementara, Kekaisaran Persia Sassania memerintah kawasan yang saat ini disebut Iran, Irak, dan Afghanistan.

Bizantium mampu menghasilkan koin emas dan tembaga, sedangkan Persia Sassania sangat bergantung pada koin perak. Koin yang dibuat oleh dua kekaisaraan itu mengandung gambar penguasa dan juga simbol agama. Seperti halnya simbol salib yang dibuat untuk orang Kristen Bizantium dan lambang altar api dibuat untuk orang-orang Zoroaster Persia.

Orang-orang Arab dengan cepat beradaptasi dengan sistem penggunaan koin tembaga di Suriah, Palestina, dan Mesir, serta koin perak di Irak dan Iran. Semua jenis koin itu berhubungan dengan tradisi lokal dan me nyimpan beberapa kejutan serta pengetahuan tentang situasi di Timur Dekat selama periode awal pemerintahan Arab.

Setelah penaklukan Arab, koin Bizantium terus beredar secara luas di Suriah dan Palestina selama beberapa dekade. Koin emas bertahan paling lama sampai akhir abad ketujuh, dan koin tembaga berlangsung beberapa dekade hingga sekitar 660 M.

Sebagian besar koin tembaga ini menggambarkan tentang Kaisar Bizantium yang berkuasa dari tahun 641 hingga 668, yaitu Konstans II. Koin-koin itu menunjukkan gambar kaisar pada bagian depan dan huruf M di bagian belakang.

Tidak ada yang tahu bagaimana koin-koin ini melintasi perbatasan antara dua kekuasaan yang hampir selalu berperang. Namun, yang jelas koin-koin itu mengungkapkan hubungan ekonomi yang erat antara kekuatan Kekaisaran Bizantium dan Kerajaan Arab.

Koin-koin Bizantium tidak sedikit yang imitasi, beberapa di antaranya mirip dengan yang asli, dan yang lainnya tidak diketahui berasal dari mana. Koin-koin palsu itu tam paknya dibuat oleh para pejabat lokal yang mencetak koin untuk keuntungan mereka sendiri.

Namun, banyak dari koin-koin tersebut yang mengikuti ketentuan Kekaisaran Bizantium. Di bagian depan koin ditandai dengan sosok sang kaisar dan terdapat lambang salib di tangan dan mahkotanya.

Di sebaliknya, biasa nya terdapat simbol Kristen seperti salib. Namun, pada koin yang lain salib itu dihapus. Koin yang sudah diinovasi tersebut dikeluarkan di bawah pemerintahan Arab.



Sumber: Republika.co.id
loading...