Mata Uang Islam Pertama Lahir di Masa Umayyah

Di masa Umayyah, koin digunakan guna menetralisir pengaruh Bizantium

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mata uang Islam pertama terbentuk di bawah kekuasaan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, pendiri dinasti Umayyah pada tahun 661 M, hampir tiga dekade setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Sebagai penguasa, Muawiyah membuat seluruh wilayah Islam saat itu di bawah kendali pusat, dan ia mengumpulkan kekuatan untuk melawan Bizantium. Namun, ia juga bersusah payah untuk menetralisir perbedaan agama yang mencolok pada koin emas Bizantium.

Di Suriah, koin jenis Bizantium masih tetap digunakan walaupun pemerintahan Bizantium sudah runtuh. Dengan demikian, orang Suriah mewakili kesinambungan budaya antara Kekaisaran Bizantium dan Kerajaan Arab.

Memuat kata dari Alquran Selama 20 tahun pemerintahan Khalifah Umayyah kelima, yakni Abdul Malik ibnu Marwan, program keislaman menjadi lebih jelas. Khalifah Abdul Malik membangun Haram al- Sharif (Kubah Batu) di Yerusalem.

Ia juga membuat dekrit yang menegaskan, semua bisnis pemerintah dinyatakan dalam Bahasa Arab. Karena itu, gambar Khalifah Abdul Malik kemudian terpampang di koin menggantikan gambar Kaisar Bizantium. Lambang salib juga dihilangkan, dan untuk pertama kalinya kata-kata dari Alquran dimunculkan di dalam koin.

Baca: Koin dalam Peradaban Islam

Koin emas baru yang bertuliskan Bahasa Arab itu pun menimbulkan krisis internasional. Pada 692 M, upaya Khalifah Abdul Malik untuk membayar upeti kepada Bizantium dengan koin-koin baru itu ditolak oleh Kaisar Justinian II (669-711). Penolakan upeti itu pun melanggar perjanjian, dan perang pun pecah.

Koin emas itu menyinggung Kaisar Justinian II karena di dalamnya tak lagi terdapat simbol Kristen, tapi digantikan dengan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Sejak saat itu, simbol Islam akhirnya diterapkan pada semua mata uang.

Tahap berikutnya, dalam membangun sistem koin Arab yang memiliki standardisasi maka dimunculkan gambar khalifah pada koin emas, perak, dan tembaga. Sejumlah tempat pencetakan koin berada di daerah perbatasan tempat tentara dikerahkan untuk melawan Bizantium.

Hal ini menunjukkan, koin-koin itu diproduksi untuk kepentingan militer. Untuk pertama kalinya, koin-koin itu menampilkan khalifah. Sementara, di balik koin ditampilkan objek yang dikenal sebagai qutb (tongkat) yang dikelilingi tulisan kalimat syahadat. Koin-koin ini dikeluarkan selama empat tahun, yakni pada 693 hingga 697.

Pada periode yang sama di Mesir, koin menunjukkan lebih sedikit variasi. Mesir hanya menggunakan satu percetakan di Alexandria. Koin itu terbuat dari tembaga yang kecil dan tebal, tidak ada koin emas atau perak.

Pembuatan koin di Arab sebagian besar sesuai dengan pola yang sudah ada, yaitu gambar penguasa di bagian depan, sedangkan di baliknya terdapat figur atau lambang budaya lain yang berbeda.

Namun, pada 697 M, jenis koin emas kemudian hanya menampilkan tulisan Arab yang sebagian besar berasal dari Alquran. Reformasi fundamental ini menghasilkan mata uang universal yang benar-benar Islami, yang cocok digunakan di negara-negara Islam yang mulai menghindari penggambaran sosok manusia.



Sumber: Republika.co.id
loading...