Menemukan Hidayah di Alpujarras

Dulu, Muslim adalah kelompok mayoritas di Alpujarras.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dulu, Muslim adalah kelompok mayoritas di Alpujarras. Kini, meski Alpujarras bukan lagi wilayah Muslim, melainkan umat Islam tetap ada di sana. Namun, memang jumlahnya tidak banyak alias minoritas.

"Kami berjumlah sekitar 20 keluarga, yang terdiri dari 100-an orang,'' kata Qasim Barrio Raposa, seorang warga Muslim di Alpujarras yang mengelola Kafe Baraka.

Ia dan warga Muslim lainnya telah tinggal di kawasan ini selama 25 tahun. ''Kami benar-benar telah terintegrasi dengan penduduk daerah ini. Mereka tahu bahwa Kafe Baraka adalah kafe Muslim.''

Qasim sejatinya bukan Muslim kelahiran Alpujarras. Ia berasal dari Bilbao dan awalnya bukan seorang Muslim. Namun, suatu hari ia mendapatkan hidayah tatkala melihat kehidupan masyarakat Muslim yang harmonis di Alpujarras. Setahun kemudian, kakak laki-lakinya juga mengikuti jejaknya meninggalkan Bilbao menuju Alpujaras, lalu hidup sebagai Muslim.

"Dua belas tahun silam saya terpanggil untuk menjadi Muslim,'' kata Qasim.

Ia pun memilih mendirikan sebuah tempat makan halal, yakni Kafe Baraka, sebagai mata pencaharian.  Di kafenya yang menjadi tempat pertemuan populer di Alpujarras, Qasim menyajikan aneka makanan halal. Terletak di Orgiva, ibu kota Alpujarras, Kafe Baraka mengolah semua menu makanannya dengan bahan-bahan organik. Alhasil, tersajilah hidangan yang tak hanya halal, tapi juga sehat.

Baca: Alpujarras, Benteng Terakhir Muslim di Spanyol

"Kafé Baraka adalah tempat berkumpul orang-orang Alpujarras yang suka makanan organik dan alami. Semua orang yang mengunjungi kafe kami menyukai suasana dan makanan kafe kami," tutur Qasim.

Selain kuliner Spanyol, Kafe Baraka juga menyajikan ragam makanan Timur Tengah. Ada shawarma, kebab, cous cous, tajin, hummus, omelet Spanyol, guacamole, gazpacho, dan jus alami. Tersedia pula aneka kue dan teh yang pemanisnya terbuat dari fruktosa atau madu asli Alpujarras.

Sebagai Muslim, Qasim ingin usahanya mencerminkan filsafat ajaran Islam. Karena itu, ia menerapkan beberapa aturan di kafenya, seperti larangan merokok dan tak menyediakan alkohol. ''Kami juga memiliki hewan peliharaan sendiri, seperti ayam atau domba dan kami menyembelihnya sesuai dengan standar halal," kata Qasim.

Selain mengedepankan prinsip halal dan organik, Kafe Baraka juga berusaha menggunakan sebanyak mungkin bahan-bahan lokal. Hal ini tentu menguntungkan bagi perekonomian masyarakat setempat.

Tak butuh waktu lama bagi kafe ini untuk merebut hati pelanggan. Sebentar saja, tempat makan ini dikenal masyarakat dan wisatawan. Tak sekadar sebagai tempat makan dan minum, kafe ini juga menjadi tempat berkumpul bagi warga setempat, khususnya warga Muslim.

Menurut Qasim, kaum Muslim di wilayah Alpujarras adalah gambaran sebuah komunitas yang harmonis yang telah berbaur selama bertahun-tahun. Saat ini, mereka bahkan memiliki permakaman khusus Muslim.



Sumber: Republika.co.id
loading...