Menjadi 'Ibaadurrahman

Ibaadurrahman adalah sebutan indah dari Allah untuk kita.

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Muhammad Arifin Ilham

JAKARTA -- 'Ibaadurrahman adalah sebutan indah dari Allah yang Mahakasih dan Mahasayang untuk kita, para hamba- Nya. Ia adalah sebutan spesial untuk hamba Allah yang beriman, yang dominan rahmatnya daripada murkanya. Yang lebih mampu bersabar dalam tawakal dan qanaah daripada mengumbar kedengkian dan melempar amarah.

Ia adalah sebuah diksi Langit yang mengistimewakan dan memuliakan seorang hamba tersebab hidupnya sifatsifat yang disebut oleh Surah al-Furqan ayat 63. Firman Allah, "Adapun 'Ibaadurrahman, hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina) mereka mengucapkan 'salam'," (QS al-Furqan [25]: 63). Sifat pertama dari 'Ibaadurrahman adalah tawadhu. Sebuah sifat yang mengedapankan rasa dari pada peng- 'aku'-an. Rasa yang dimaksud adalah rendah hati.

Hidupnya dengan apa adanya, sederhana dan tidak sombong. Memiliki tujuan hidup yang pasti sehingga jalannya selalu tenang, istiqamah, tidak congkak dan takabur, serta tidak berlebihan dalam mengejar dunia. Tanda-tanda ketawadhuan, tampak terjaga pandangannya, matanya tidak liar kalau lagi berjalan, lebih sering menunduk daripada mendongak; berwibawa dan tidak bermalas-malasan.

"Tidaklah sedekah itu mengurangi harta seseorang dan tidaklah Allah menambahkan ampunan seorang hamba kecuali dia akan bertambah mulia, dan tiada seseorang yang tawadhu (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah meninggikan derajatnya," sabda Nabi SAW.

Sifat kedua adalah tetap santun kepada orang bodoh. Termasuk orang bodoh adalah orang-orang yang suka merisak dan senang memfitnah. Ia berupaya menjauhi perdebatan demi menjaga waktu agar tidak terbuang siasia. Ia juga tidak pernah mencela kebodohan orang-orang di sekelilingnya dengan celaan yang menyakitkan dan tak pernah membalas keburukan dengan keburukan demi menjaga kehormatannya.

Mu'adz bin Anas meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menahan amarah, meski ia mampu mengumbarnya, maka Allah akan memanggilnya ke kedudukan para penghulu makhluk hingga memilihkan baginya para bidadari yang boleh ia nikahi sesuka hatinya."

Kisah Rasul al-Mushthafa, Muhammad SAW dengan perempuan Yahudi yang tua lagi buta di sebuah pojok pasar di Madinah adalah inspirasi berharga bagi kita. Beliau sosok yang berhasil menyembunyikan kebaikan di hadapan sejarah. Saat para sahabat geram dengan kebiasaan perempuan tua Yahudi ini yang setiap hari menghasut orang-orang yang hendak ke pasar agar tidak mengakui Muhammad sebagai seorang Nabi. Justru Nabi memperlakukan si perempuan Yahudi ini dengan penuh cinta.

Setiap cacian dan fitnahan kedengkian dilontarkan maka dibalas Rasul dengan menyuapi si perempuan Yahudi yang hidupnya sebatang kara ini, pagi dan sore. Begitulah seterusnya, kebiasaan luhur ini Nabi Muhammad SAW lakukan sampai wafat. Dan selama itu pula, beliau tidak pernah mengungkap dan membocorkan jati diri beliau yang selalu memberi makan si perempuan Yahudi tua ini.

Sejarah tidak diam. Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq akhirnya yang membuka rahasia suci ini. "Ya, saya memang bukan orang yang biasa memberi makan. Karena beliau sudah lama berpulang ke Hadirat-Nya. Beliau adalah orang yang selama ini selalu kau hardik, kau caci, dan engkau fitnah. Namun, beliau tetap dengan cinta dan kasih memberimu makan. Beliaulah Nabi kami, Muhammad SAW. Saya tidak akan pernah sampai pada keadaan dan kedudukan beliau."

Sejurus setelah itu, dengan tangis penuh sesal, nenek Yahudi ini akhirnya bersyahadah. Terhadap orang jahil, sosok 'Ibaadurrahman sejati' ini tetap mengatakan, "Salaama, damai penuh cinta!" Wallahu A'lam.



Sumber: Republika.co.id
loading...