Muhammad Al-Amin

Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan Rasul yang digelari al-Amin (terpercaya).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Moch Hisyam

Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan Rasul yang digelari al-Amin (terpercaya). Gelar al- Amin ini bukan karena ibunya bernama Aminah sebagaimana yang diungkapkan dalam sebuah ensiklopedi dunia, Britanica Encyclopedia, pada materi Biografi Muhammad SAW. Gelar ini disematkan kepada Rasulullah SAW oleh masyarakat Arab atas kepribadiannya.

Gelar al-Amin ini tersematkan pada diri Nabi Muhammad SAW jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat beliau remaja, sudah banyak orang yang mempercayainya, banyak di antara mereka yang menitipkan barang atau sesuatu kepada beliau saat mereka bepergian.

Dan, lebih kentara lagi gelar ini disandangkan saat beliau mampu dengan adil dan bijak memutuskan perselisihan terkait siapa yang paling berhak menempatkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya. Mereka mengatakan kepada Nabi SAW, Rodiinaa bil amin.

Artinya, Kami ridha dengan keputusan al-Amin (Nabi Muhammad SAW)." Gelar al-Amin (tepercaya) yang disandang oleh Rasullah SAW merupakan bukti mulianya perangai Rasulullah SAW, baik saat belum diangkat menjadi nabi dan Rasul maupun setelah menjadi Nabi dan Rasul.

Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung. (QS al-Qalam [68]: 4). Setidaknya ada lima sifat atau akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sehingga beliau digelari al-Amin. Pertama, kejujurannya. Suatu saat Nabi Muhammad SAW bersabda, Wahai kaum Quraisy, kemarilah berkumpul kalian semua.

Aku akan memberikan sebuah berita kepada kalian semua! Setelah masyarakat Quraisy berkumpul, beliau bersabda, Saudara-saudaraku, jika aku memberi kabar kepadamu, di balik bukit ini ada musuh yang sudah siap siaga hendak menyerang kalian, apakah kalian semua percaya? Tanpa ragu mereka menjawab, Percaya!, Engkau sekalipun tidak pernah berbohong, wahai Al- Amin."

Kedua, amanah. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah RA berkata, Seandainya Rasulullah memang mau menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan Allah kepadanya, pasti beliau akan menyembunyikan firman Allah SWT Surah al-Ahzab (33, ayat 37). (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, kesantunannya. Diceritakan, setiap kali Rasulullah pergi ke masjid selalu diludahi dan diludahi, kemudian pada saat yang lain tidak ada yang meludahi lagi, ditanyakan oleh Rasul, rupanya orang itu sakit. Rasul pun bergegas untuk menjenguknya. Dengan kedatangan Rasul, orang itu pun menangis.

Ternyata Rasulullahlah yang pertama datang menjenguknya. Orang yang selama ini ia benci, ternyata yang datang pertama kali menjenguknya. Keempat, kerendahan hatinya. Dari Anas bin Malik RA, beliau menceritakan, Suatu hari datang seorang wanita menjumpai Rasulullah SAW dan berkata, 'Sesungguhnya aku membutuhkan sesuatu darimu (wahai Rasulullah)'.

Lalu, Rasulullah menjawab, 'Pilihlah di jalan mana yang engkau kehendaki di Kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, aku akan menemuimu (memenuhi keperluanmu)'. (HR Abu Daud). Kelima, sifat malu.

Abu Sa'id Al-Khudri RA mengatakan, Rasulullah SAW itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidaksukaan beliau itu dari wajahnya. (HR Bukhari). Semoga kita semua sebagai umatnya dapat meneladaninya, sehingga kita menjadi pribadi yang terpercaya. Amin. Wallahu a'lam.



Sumber: Republika.co.id
loading...