Perhatian dan Kepedulian Penguasa

Perhatian dan kepedulian adalah amaliah nyata yang harus dibangun

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Arifin Ilham

Al-Iman al-ihtimam, iman itu perhatian. Demikian disebut dalam sebuah hadis. Perhatian kepada siapa? Perhatian kepada Allah, dengan semua syariat dan ajaran-Nya, perhati an terhadap semua sunah Nabi-Nya, juga sangat perhatian dengan umat Nabi Muhammad SAW.

Jadi, dianggap kurang sempurna iman jika kita tidak memiliki perhatian. Karenanya, perhatian dan kepedulian adalah di antara syariat Allah yang tak terpisahkan dari syariat Allah lainnya, seperti shalat, puasa, atau juga haji. Bahkan, shalat, puasa, dan haji kita dianggap dusta oleh Allah jika kita tidak memiliki empati dan kepeduliaan yang nyata kepada orang-orang yang hidup di sekitar kita. (baca QS al-Ma'uun).

Karena itu, perhatian dan kepedulian adalah amaliah nyata yang harus dibangun oleh siapa pun, kapan pun, dan di manapun. Lebih-lebih jika kita ada lah para pemangku amanah.

Hampir selalu berbuah indah bahkan akan mencatatkannya dengan tinta emas pada lembar sejarah kehidupan manusia, jika para penguasa mampu dengan baik memberikan perhatian dan kepeduliannya kepada rakyat yang di pimpinnya. Seperti cerita agung sosok Umar bin Khatab berikut ini.

Suatu hari, demikian tertulis dalam Mausu'ah Qishashis Salaf, Umar bin Khatab RA pergi dari rumah untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang duduk dengan sedih dan gelisah di pintu masjid.

Umar bertanya, "Ada apa dengan mu?" Laki-laki itu menjawab, "Istriku hampir melahirkan, tetapi kami tidak memiliki apa pun dan tidak seorang pun bersamanya."

Umar menanyakan rumahnya. Lalu, dia menunjuk sebuah tenda di pinggiran Kota Madinah. Setelah menemui istri nya, Umar pun mengajaknya langsung, "Maukah kamu memperoleh kebaikan yang Allah antarkan kepadamu?" Istrinya bertanya, "Apa itu ya Amirul Mukminin?"

Umar menjelaskan, "Seorang wanita hampir melahirkan dan tidak ada yang menemaninya." Istrinya pun menyetujuinya.

Umar lalu mengambil tepung, mentega, dan susu kering. Ketika sampai di tenda, Umar berteriak, "Wahai penghuni tenda." Laki-laki itu keluar. Umar me nyuruh istrinya masuk kepada wa nita itu, sedangkan ia menyiapkan bejana dengan tepung, mentega, dan susu ke ring. Umar meletakkannya di tungku. Dia meniup apinya dan mengaduk isinya.

Apa yang ada di bejana belum juga masak, tetapi telah terdengar tangisan bayi dari dalam tenda. "Ya Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira ke pada temanmu, anaknya laki-laki," seru istri Umar.

Laki-laki itu terkejut bahagia. Dia berkata, "Kami telah merepotkan dan melelahkan Amirul Mukminin." Umar berkata, "Tidak apa-apa. Be sok pagi datanglah kepada kami. Kami akan memberimu apa yang kamu perlukan untuk keluargamu."

Keesokan harinya laki-laki itu da tang. Umar memberinya unta betina dan makanan yang memenuhi pung gung nya. Allahu Akbar. Begitulah orang besar men cetak sebuah keteladanan. Bagai mana dengan para penguasa di negeri ini? Semoga segera terlahir pe nguasa yang amanah dan mau berkhidmat langsung kepada rakyat yang di pim pinnya.



Sumber: Republika.co.id
loading...