Pesona Arsitektur Dinasti Abbasiyah

Seni ukir pada zaman Abbasiyah pun berkembang secara pesat.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pemerintahan pada zaman Bani Abbasiyah ditandai dengan tumbangnya Bani Umayyah pada 132-656 H atau 750-1258 M. Disebut dengan zaman Abbasiyah karena para penguasa abad ini adalah keturunan dari al- Abbas atau paman Nabi Muhammad SAW.

Zaman ini disebut dengan zaman keemasan Islam di mana banyak perubahan terjadi yang menunjukkan keberhasilan dan kejayaan para penguasa hingga tidak me iliki tandingan pada masa itu. Salah satu kemajuannya dilihat dari perkembangan arsitektur yang ada.

Pada masa awal Dinasti Abbasiyah, segala hal yang berkaitan dengan seni hanya merupakan warisan dari Dinasti Umayyah. Pada masa berikutnya, seni dan arsitektur yang berkembang pada masa ini mengalami elaborasi dan menyistematisasi gagasan Umayyah.

Dalam buku berjudul Sejarah Kebudayaan Islam karya Muradi, disebut ada satu masjid yang didirikan pada masa pemerintahan Bani Abbas dan dikenal sa ngat indah karena seni arsitekturnya. Masjid Samarra yang terletak di Baghdad ini dilengkapi dengan sahn, yaitu sebuah lengkungan yang menyerupai bentuk piring.

Sekeliling pinggirannya dilengkapi dengan serambi-serambi. Di setiap sudut masjid, bahkan didirikan mercu berbentuk bulat yang ter ben tuk dari batu bata. Masjid pada masa itu umum nya tidak memiliki daun pintu, pintu yang terbuka ini berujung pada satu titik dan terlihat barisan pintu yang berbentuk kerucut.

Hal lain yang ditonjolkan dalam gaya dan seni arsitektur Masjid Samarra adalah tiang-tiang yang dipasang beratap lengkung. Tiang-tiang ini dibangun menggunakan batu bata dengan bentuk segi dela pan dan didirikan di atas dasar segi empat. Dasar-dasar ini lalu ditopang oleh tiang dari marmer ber segi delapan dan disambungkan ke bagian lain de ngan menggunakan logam atau besi berbentuk lonceng.

Masjid ini terbilang memiliki arsitektur yang sangat megah. Masjid lainnya yang juga istimewa adalah Masjid IbnuThulun. Di mana masjid ini didiri kan pada 876 M oleh Ahmad bin Thulun, seorang penguasa di wilayah Mesir.

Setelah Abu Ja'far al-Mansur menjadi khalifah pada 137 H/754 M, Ia membangun kota baru yang lokasinya di antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Untuk membangun Kota Baghdad ini, ia memercayakan kepada dua arsitek, yaitu Hajjaj bin Arthah dan Amrah bin Wadhdhah dengan tenaga kerja sebanyak 100 ribu orang. Arsitektur Kota Baghdad berbentuk bundar dengan gaya baru dari seni bangunan Kota Islam.

Di pusat kota dibangun Istana Khalifah dan Masjid Jami', sementara di sekeliling istana dan masjid tersedia alun-alun, rumah putra khalifah, asrama pegawai, rumah komandan dan pengawal, serta rumah kepala polisi. Desain ini me lambangkan otoritas kerajaan dengan memadukan benda-benda yang diambil dari reruntuhan Istana Sasania, termasuk pintu gerbang besi Kota al-Wasit yang dirampas dari sebuah kampung di Sasania.

Istana megah ini lalu diberi nama Qashru al- Dzahab atau Istama Keemasan yang luasnya sekitar 160 ribu hasta persegi dan Masjid Jami'nya memiliki luas 40 ribu hasta persegi. Dua bangunan ini menjadi simbol pusat kota. Keunikan dan kekhususan dari arsitektur bangunan istana ini tampak pada penerapan hiasan muqamas atau stalaktit, seperti yang diterapkan pada bangunan-bangunan kuburan. Susunan hiasan stalaktit ini digabungkan menjadi lengkung stalaktit yang lebih besar.

Dalam waktu singkat, Kota Baghdad menjadi ramai dan dikunjungi berbagai lapisan masyarakat dari seluruh penjuru dunia. Hingga sekitar 157 H, khalifah al-Mansur membangun istana baru yang diberi nama Istana Abadi atau Qashrul Khuldi yang terletak di luar Baghdad. Setalah Baghdad, kota lain yang dibangun adalah Kota Samarra yang terletak di sebelah timur Sungai Tigris, 60 mil dari pusat Kota Baghdad. Kota ini pun dilengkapi dengan bangunan utama dan pendukung, seperti istana dan masjid.

Seni ukir pada zaman Abbasiyah pun berkembang secara pesat. Hal ini dapat dilihat pada qubah empat yang dibangun pada pemerintahan khalifah Mansyur di atas empat buah gerbang pintu masuk Kota Baghdad. Garis tengah dari setiap kubah sepanjang 50 hasta, ditambah dengan ukiran emas dan patung yang diputar oleh angin.

Qubah-qubah ini digunakan oleh khalifah untuk beristirahat. Masing-masing kubah memiliki ciri khas dan keistimewaannya sendiri. Dari kubah Khurasan terlihat ada air bening yang mengalir. Di qubah Syam terbentang perkampungan rakyat yang berbunga dan berkolam. Sementara qubah Bashrah menunjukkan daerah industri dan qubah Kufah menggambarkan taman kesuma.

Peninggalan arsitektur dari Bani Abbas masih da pat disaksikan hingga kini, yaitu istana Baghdad, Sa marra, Ukhaidir, pintu gerbang Raqqa di Baghdad. Per kembangan arsitektur Islam yang begitu besar pa da masa ini memang terlihat pada penggunaan tek nik bahan batu bata.



Sumber: Republika.co.id
loading...