Tidak Menjadi Ayah Bisu

Kalau hari ini banyak muncul ayah 'bisu' dalam rumah-rumah Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Muhammad Muslih Aziz

JAKARTA -- Diambil dari tulisan tesis Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, judul ini dibuat untuk mencerahkan kita, para ayah Indonesia untuk tidak menjadi ayah bisu. Dalam tesisnya ini, peraih magister di Universitas Umm al-Quro, Makkah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan ini menemukan 17 dialog berdasarkan tema antara orang tua dan anak dalam Alquran yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan perincian sebagai berikut. Pertama, dialog antara ayah dan anaknya sebanyak 14 kali. Kedua, dialog antara ibu dan anaknya 2 kali. Dan, ketiga, dialog antara kedua orang tua tanpa nama dengan anaknya sebanyak 1 kali.

Masya Allah, ternyata Alquran ingin menyampaikan sebuah pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi terbaik di zamannya seperti yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dan anaknya. Jauh lebih banyak dan lebih sering; 14 berbanding 2.

Kalau hari ini banyak muncul ayah 'bisu' dalam rumah-rumah Indonesia, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah sering kali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan menarik urat kuat-kuat alias marah.

Ada lagi sosok-sosok ayah yang diam saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sakit gigi atau memang tidak bisa bicara. Sementara, sebagian lagi super irit; bicara kalau ada perlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara, sang anak langsung menyela, "Cukup, Yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah." Saking monotonnya yang hanya basa basi dan ituitu saja.

Jika begitu keadaannya, pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, tidak bosan menyampaikan nasihatnya, ilmunya, tuturan tauhidnya, ajaran ibadah dan amal salehnya, ujaran pesan akhlaknya, kisahnya, dan dialognya.

Untuk para ayah yang merindukan generasi Rabbany, kembalilah ke Alquran. Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam panduan hidup umat Islam itu, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasihat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.

Namun, adalah juga salah jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Tetap penting bahkan sangat penting. Pemahaman yang benar adalah, Alquran seakan ingin menyeru kepada semua ayah, "Ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian!". Dan, tidak menjadi ayah bisu. Wallahu A'lam.



Sumber: Republika.co.id
loading...