Berburu Durian sampai ke Negeri Jiran

DOKTER menyatakan agar saya menjauhi durian. Sayapun bertanya apakah boleh makan durian kalau jarang-jarang, seperti sebulan sekali dalam jumlah tidak banyak.

Dokter saya, Dr. Goh Huck Keen, yang juga dokternya Liem Swie King itu menjawab: "Boleh. Terutama kalau sekiranya tak makan durian maka kamu mati." Kami tertawa di ruangan beliau di Island Hospital Penang. Alhamdulillah hasil medical check up saya bagus atas doa dari semuanya, termasuk pembaca status ini.

Sebagai penyuka durian, bau durian pasti menggoda. Bahkan namanyapun sudah mengundang harap. Begitulah orang kalau sudah suka atau cinta. Maka semalam kami tergerak untuk berburu durian yang paking terkenal di Malaysia, durian Musang King namanya. Jenis durian ini sangat terkenal di Indonesia barakah film anak-anak Upin Ipin. Ternyata harga durian ini mahal bisa sampai 500 ribu perkilonya. Lumayan menguras isi dompet, bukan?

Namun semalam ada hamba Allah yang baru kenal yang tak rela kalau wisata kuliner kami semalam harus dibayar dengan uang kami. Beliau adalah pemilik pabrik pentol bakso di Malaysia asal Mojo Kediri. Beliau ini pengusaha sukses yang disukseskan lewat dua amalan penting: sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan melayani agama Allah. Untuk pengajian, mau berapa banyak bakso akan dipenuhinya. Beliau adalah penyuka durian dengan pangkat sangat suka.

Kami dibawa ke pusat durian di Malaysia, tepatnya di SS2 Petaling Jaya. Subhanallaah, memang surga durian. Durian Musang King memang luar biasa. Tampakan luar tak begitu menggoda, isinya tak membuat diri ini berhenti geleng kepala. Geleng kepala kagum, bukan geleng kepala tak mau. Andai nikmat itu bisa diwakili bahasa, pastilah saya ungkapkan. Namun biarlah kenikmatan itu menjadi sesuatu yang abstrak agar bayangan kreatif bisa menghasilkan banyak tafsir.

Sepulang dari Petaling Jaya, beliau berkata bahwa masih ada satu jenis durian lagi yang pangkatnya di atas Musang King. Saya lupa namanya. Nanti akan dibawa lagi pada perburuan kedua. Durian oh durian. Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...