Cara Abu Hanifah Meruntuhkan Kesombongan

Majelisnya menjadi perkumpulan ahli fikih yang dikenal dengan Mazhab Hanafi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makin jauh dari masa Rasulullah SAW dan makin luas daerah- daerah yang mengenal Islam, makin luas pula perkembangan ilmu keislaman. Perkembangan di sini diartikan dalam hal yang positif, bukan perkembangan yang keluar dari garis besar tuntunan Islam.

Misalnya, dahulu pada zaman Rasulullah dan sahabatnya, huruf-huruf Alquran ditulis tanpa menggunakan harakat dan titik. Setelah orang-orang non-Arab mengenal Islam, penulisan huruf-huruf Alquran lebih disederhanakan dengan menambahkan titik pada huruf-huruf yang hampir sama, lalu pada masa berikutnya ditambahkan harakat. Yang demikian dimaksudkan agar orang-orang non-Arab mudah membacanya.

Demikian juga dalam permasalahan agama secara umum, para sahabat dimudahkan dalam memahami Islam karena mereka bisa bertanya langsung dengan Rasulullah SAW dan para tabi'in bisa bertanya kepada para sahabat.

Adapun orang-orang setelah mereka, dengan penyebaran Islam yang luas membutuhkan penyederhanaan yang lebih mudah dipahami akal pikiran mereka. Orang pertama yang melakukan usaha besar menyederhanakan permasalahan ini adalah imam besar yang kita kenal dengan Imam Abu Hanifah rahimahullah. Ia menyusun kajian fikih dan mengembangkannya demi kemudahan umat Islam.

Sebagaimana orang-orang lebih mengenal Imam Syafii daripada nama aslinya, yaitu Muhammad bin Idris. Jarang juga orang yang tahu bahwa nama Imam Abu Hanifah adalah Nu'man bin Tsabit bin Marzuban, kun-yah-nya (nama panggilan) Abu Hanifah. Ia adalah putra dari keluarga Persia (bukan orang Arab). Asalnya dari Kota Kabul (se karang ibu kota Afghanistan). Kakeknya, Marzuban, memeluk Islam pada masa Umar bin Khattab, lalu hijrah dan menetap di Kufah.



Sumber: Republika.co.id
loading...