Cara Turki Menjaga Identitas

Gerakan ini melindungi nilai-nilai keagamaan yang dimiliki Turki

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Salah satu ulama Turki yang berkontribusi dalam mengembangkan gerakan tasawuf adalah Suleyman Helmi Tunakhan (1888-1959). Di tengah tekanan sekularisme yang dikembangkan oleh rezim Attaturk, Suleyman melalui organisasinya, Milli Gurus, gigih mengembangkan metodologi ilmu pengetahuan Islam di Turki. Tidak hanya mengembangkan ajaran di sekolah-sekolah, ia bersama rekan-rekannya juga gencar mempertahankan kebudayaan dan pendidikan Islam di Turki.

Melalui gerakan tasawufnya, Suleyman juga menekankan perlindungan terhadap nilai-nilai keagamaan yang dimiliki Turki di berbagai aspek kehidupan. Tak hanya dalam kebudayaan, pendidikan, dan sosial, namun juga dalam tatanan pemerintahan melalui dunia politik.

Meskipun negara mereka dalam situasi tergerus kebudayaan Barat, kalangan sufi Islam Turki terus giat belajar. Mereka banyak mendapat respons dan simpati dari kalangan intelektual dan pemuda Turki, baik di dalam maupun  luar negeri. Mereka menyadari akan pentingnya nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan sebagai identitas kebangsaan mereka yang sudah diretas sejak berabad-abad silam.

Keberhasilan gerakan tasawuf Islam Turki ini dapat dilihat dengan banyaknya anak mudaTurki di negara-negara Eropa yang dipercaya menjadi imam dan pengurus masjid. Sementara di Turki sendiri, kelompok sufi berhasil mendirikan Partai Refah, yang dapat menjadi wadah bagi mereka untuk berjuang di kancah politik.

Baca: Sumbangsih Muslim Turki dalam Mengenalkan Islam di Eropa

Tokoh lain di Turki yang memperjuangkan hal serupa adalah Badiuzzaman (1876-1960) melalui organisasinya, Nurasi Orde. Dalam berjuang, Badiuzzaman bersama pengikutnya lebih menekankan pada metodologi untuk memadukan budaya sekuler ala Barat dengan kebudayaan Islam. Targetnya juga sama, yakni dunia pendidikan dan sosial budaya.

Meski gerakan Nurasi Orde tak sekental tasawuf yang dikembangkan Suleyman, ajaran yang mereka kembangkan juga punya dampak positif terhadap sebagian warga Turki. Sebab, dengan memahami konsep agama dan modernitas, warga Turki—baik yang tinggal di Tanah Airnya maupun yang merantau ke Eropa—dapat dengan mudah beradaptasi dengan kebudayaan bangsa Eropa yang sudah modern.

Tak hanya dua gerakan sufi ini yang terdapat di Turki. Ada lagi yang lain, seperti Muluwees, Al Qadyyria, dan beberapa yang lain. Meski demikian, gerakan mereka tidak seperti Milli Gurus dan Nurasi Orde. Gerakan sufi yang lain ini hanya mempunyai pengikut yang tidak banyak dan hanya tersebar di beberapa tempat di Turki.



Sumber: Republika.co.id
loading...