Maaf Aku tak Bisa Membalas Pahala Pergunjinganmu

PERNAHKAH kita digunjing oleh seseorang dicaci oleh seseorang, dicela oleh seseorang atau mungkin difitnah oleh seseorang, mungkin orang tersebut hanya berani berbicara di belakang kita atau mungkin dihadapan kita.

Kira-kira apa komentar kita dan respon kita ketika kita di gunjing dan dighibah oleh orang?

Banyak di antara kita yang marah yang mengumpat, yang menunjukkan kekecewaannya karena merasa ditikam dari belakang saat ini digunjing atau dighibah oleh teman atau sahabatnya. Bahkan ada di antara kita ada yang mendatangi rumah tersebut dan melabraknya.

Kita luapkan emosi kita dan kekecewaan kita di hadapan dirinya. Bahkan banyak di antara kita berupaya membuat skor menjadi 1-1.

Kita gunjing dia di beberapa tempat pergaulan kita. Kita sebutkan aib-aibnya sebagaimana dia menyebutkan aib kita. Kita umbar kejelakan-kejelekannya, rahasia-rahasianya yang selama ini kita simpan, sebagaimana dia mengungkapkan rahasia-rahasia kita.

Itulah yang mungkin terjadi di masyarakat kita pada saat-saat ini. Tahukah kita? Bahwa menjadi korban gunjingan orang, fitnahan orang, itupun dialami oleh para ulama kita.

Salah satu catatan sejarah yang menarik dalam masalah ini apa yang yang terjadi dan dialami Hasan al Bashri. Suatu ketika ada yang memberikan laporan ke beliau bahwa ada yang menggunjing dan mengghibah beliau di belakang.

Apa yang beliau lakukan, apa yang dilakukan Hasan al- Bashri? Apakah beliau langsung marah? Beliau langsung meluapkan emosinya, beliau langsung melabrak orang tersebut? Ternyata tidak!

Yang beliau lakukan adalah beliau menyiapkan sepiring kurma. Lalu ia kirimkan ke orang yang menggunjing beliau tersebut. Lalu ketika berhadapan pengunjing, penggibah. Beliau mengatakan,

"Telah sampai berita kepada diriku bahwa engkau telah menghibahkan dan memberikan sebagian pahalamu kepada diriku, jazakallahu khairon (semoga Allah subhanahu wa taala memberikan balasan kepada dirimu yang banyak) dan aku berikan kepada dirimu sepiring kurma sebagai hadiah karena aku ingin membalasmu. Dan tolong maafkan diriku apabila aku tidak bisa memberikan balasan sebagaimana yang engkau berikan pada diriku."

Apa maknanya?

Al Hasan al Bashri meminta maaf kepada orang tersebut. Mohon maaf saya tidak bisa membalas pahala engkau dengan pahala serupa. Saya tidak bisa menghadiahkan pahala saya sebagaimana engkau menghadiahkan pahalamu kepada diriku. Allahu Akbar.

Dighibahi, digunjing, difitnah bukannya malah marah dan mengamuk justru menyiapkan sepiring kurma untuk dihadiahkan kepada orang yang menggibahi orang tersebut.

Sudahkah iman kita, keyakinan kita, pemahaman kita sampai pada derajat seperti itu. Mungkin ada yang berkata, apakah beliau masih waras ustaz? Beliau sangat waras dan inilah sebuah contoh dari kecerdasan, keimanan seseorang. Kecerdasan emosional seseorang. [Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc]



Sumber: Inilah.com
loading...