Mementingkan Orang Lain

Karakter orang beriman adalah lebih mementingkan orang lain.

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Nur Faridah

Di antara karakter utama orang beriman adalah lebih mementingkan orang lain atau saudaranya dalam hal po sitif.Tidak hanya menganjurkan dan mendorong untuk itu, Nabi dan para sahabat juga mempraktikkannya secara nyata.Mereka begitu senang ketika telah membuat saudaranya senang dan mereka bersedih ketika tidak bisa memberikan hal terbaik kepada saudaranya. Bahkan, mereka rela menderita asalkan saudaranya sesama orang beriman tidak menderita.

Dalam Alquran, misalnya, Allah menggambarkan karakter orang Anshar, Dan orang-orang (Anshar) yang telah menem pati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin);dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung, (QS al-Hasyr [59]: 9).

Orang Anshar terkenal dengan solidaritasnya yang tinggi. Ini mereka buktikan saat mereka menerima dengan penuh sukacita kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah karena tekanan kaum Quraisy. Seperti digambarkan pada ayat di atas, kaum Anshar bahkan lebih mementingkan kaum Muhajirin dari diri mereka sendiri, meskipun mereka begitu membutuhkan. Wa jar kemudian Rasulullah memuji kebaikan kaum Anshar. Ra sulul lah, misalnya, bersabda, Demi Allah, sungguh kalian (An shar) adalah orang-orang yang paling aku cintai (HR al-Bukhari dan Muslim).

Abu Hurairah menceritakan, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu berkata, Hidup saya begitu sengsara, ya Rasulullah. Beliau kemudian menyuruhnya ke tempat istri- istrinya untuk meminta sedekah dari mereka. Seorang istri beliau berkata, Demi Allah yang mengutus Anda dengan benar, saya tidak mempunyai sesuatu kecuali air. Selanjutnya, Rasulullah menyuruh lelaki tadi pergi ke tempat istrinya yang lain dan istri yang berikutnya pun mengatakan hal yang sama.

Rasulullah kemudian mengumpulkan para sahabatnya, lalu berta nya, Siapakah yang akan membawa orang ini sebagai tamu nya pada malam ini? Seorang lelaki Anshar berkata, Saya ya Rasulullah. Ia pun membawa lelaki tadi sebagai tamunya ke tempat kediamannya. Orang Anshar itu kemudian berkata kepada istrinya, Muliakanlah tamu Rasulullah ini. Apakah kamu punya sesuatu untuk disajikan kepadanya? Istrinya menjawab, Tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anak kita.

Orang Anshar itu berkata, Sibukkanlah anak-anak kita dengan hal lain sehingga mereka lupa dengan makan malamnya.Jadi, kalau sudah waktunya mereka makan malam, tidurkanlah me reka. Jika tamu kita telah masuk rumah, padamkan lampunya dan buat tamu kita itu merasa seakan-akan kita ikut makan malam dengannya.

Saat makan malam tiba, orang Anshar dan istrinya serta tamunya duduk bersama tanpa penerangan. Sang tamu makan dengan lahapnya, sementara orang Anshar dan istrinya itu hingga pagi hari dalam kondisi perut kosong. Pagi harinya, tamu itu kaget mengetahui apa yang terjadi semalam. Ia pun lalu pergi menemui Rasulullah menerangkan peristiwa itu. Mendengar hal tersebut, beliau bersabda kepada orang Anshar dan istrinya itu, Allah benar-benar kagum dengan yang kalian lakukan semalam (HR al-Bukhari dan Muslim).

Demikianlah pujian Allah kepada orang yang mementing kan orang lain. Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhaj as-Sunnahber kata, mengutamakan orang lain padahal ia sedang ke susah an, itu lebih utama daripada sekadar bersedekah de ngan senang hati. Ka rena, tidak semua orang yang bersedekah itu senang hati dan da lam kesu sahan. Nabi menegaskan, Barang siapa memu dah kan (urusan)orang yang kesulitan, maka Allah akan memu dah kan ba ginya dari kesulitan di dunia dan akhirat. (HR Muslim). Wallahu a'lam. 



Sumber: Republika.co.id
loading...