Menghormati Orang Tua Rasulullah

Para ulama menyepakati jika orang tua Nabi SAW masuk ke dalam golongan Ahlul Fathrah

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Abdullah bin Abdul Muthalib digambarkan sebagai pemuda berwajah tampan dan menarik. Kisah Abdul lah ketika hendak dijadikan persembahan mem buat wanita-wanita Makkah tambah penasaran.

Muhammad Husain Haikal dalam Sejarah Hidup Muhammad menjelaskan, Abdul Mutthalib sangat berkeinginan untuk memiliki anak lelaki yang banyak. Dia butuh tenaga untuk mengurus air bagi para tamu yang hendak berziarah ke Ka'bah. Sampaisampai, ia bernazar jika memperoleh sepuluh anak lelaki kemudian tidak memperoleh anak lagi sesudah mereka besar, salah satu di antaranya akan disembelih untuk dijadikan persembahan.

Apa yang menjadi keinginan Abdul Mu thalib dikabulkan. Dia memperoleh sepuluh anak dan setelah itu tak punya anak lagi. Dia memanggil semua anak lelakinya demi meluluskan nazarnya. Setiap anak lelaki menuliskan namanya di atas qid-h (anak panah). Semua anak panah diambil oleh Abdul Muthalib dan dibawa kepada juru qid-h di tempat berhala Hubal yang berdiri di tengah Ka'bah.

Juru qid-h kemudian mengocok anak pa nah itu. Nama yang keluar akan disembelih untuk dijadikan persembahan bagi Hubal. Tak disangka, nama Abdullah keluar. Dia lantas membawa anak muda itu untuk disembelih di dekat sumur Zamzam. Namun, orang Quraisy ketika itu serentak melarangnya untuk berbuat demikian. Dia diminta memohon ampun atas nazarnya itu.

Abdul Muthalib yang masih ragu kemudian mendapatkan nasihat dari seorang lelaki suku Makhzum. Dia mengungkapkan, jika penebusan bisa dilakukan dengan harta maka bisa ditebuslah. Lantas, mereka pun hendak mengganti dengan sepuluh ekor unta. Mereka kembali mengundi. Hing ga lemparan ke sepuluh, nama yang ke luar masih saja Abdullah. Sesuai dengan aturan maka jumlah unta harus ditambah ke lipatannya. Abdul Muthalib harus menambah unta hingga seratus ekor.



Sumber: Republika.co.id
loading...