Pakaian Terindah Orang Beriman

hakikat keindahan bagi seorang beriman, tidak tecermin dari akhlaknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suatu hari ulama besar dan ahli juhud, Hasan Bashri, ditanya seseorang, perihal pakaian favoritnya. "Hai Abu Sa'id (julukan Imam Hasan Bashri), pakaian apakah yang paling engkau sukai?"

Hasan Bashri menjawab, "Pakaian (yang paling saya sukai) yang paling tebal dan paling kasar, serta yang paling hina menurut manusia."

Si penanya heran dengan jawaban yang didengarnya. Ia pun kembali mengorek keterangan, "Duhai imam, tidakkah ada riwayat yang menyatakan bahwa Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan?"

Mendengar sanggahan dari si penanya, sang Imam pun memberi penjelasan, "Wahai anakku, engkau telah keliru dalam memahami dalil ini. Jika yang dimaksud keindahan bagi Allah adalah pakaian, orang pendosa itu lebih baik di sisi-Nya daripada orang-orang saleh." "Ketahuilah," sambung beliau, "Sesungguhnya yang dimaksud dengan keindahan itu adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan berbuat taat, menjauhi maksiat, serta mengikuti akhlak mulia dan luhur."

Beliau kemudian melengkapi paparannya dengan menukil hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwatha'. "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Dari kisah di atas, jelas sudah bahwa hakikat keindahan bagi seorang beriman, tidak tecermin dari aksesori yang digunakan. Namun, dinilai dari ketaatannya kepada Allah serta akhlak yang ditunjukkan. Ketika dua hal ini melekat pada diri seseorang maka ia akan disenangi dan dikagumi oleh siapa pun di sekitarnya. Itulah hakikat dari satu keindahan.

Tapi sebaliknya, bila akhlak itu lucut dari kepribadian. Yang tampak adalah perangai buruk. Suka merugikan orang lain. Lalai terhadap urusan agama. Maka semahal apa pun pakaian atau semegah apa pun hiasan yang digunakan untuk mempercantik diri, tidak akan ada gunanya. Musnahlah pesona diri. Baik itu di mata manusia, maupun lebih-lebih di sisi Allah.

Sebuah peribahasa Arab menyatakan, "Laisa al-jamaalu bi atswaabin tuzayiyunaa inna al-jamaala jamaalu al-ilmi wa al-adabi" (Bukanlah keindahan itu dengan gaun yang melekat pada badan. Namun, keindahan itu ialah keindahan ilmu dan budi pekerti). Lebih dari itu, bahkan Rasulullah SAW menegaskan melalui sabdanya, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilanpenampilan dan harta benda kalian. Akan tetapi, (Allah) melihat pada hati dan amal kalian," (HR Muslim).

Jadi, siapa pun yang menghendaki keindahan hakiki maka hiasilah diri dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah, serta senantiasa berakhlak karimah, yang merujuk pada Alquran dan as- Sunnah. Wallahu 'alamu bish-shawab.



Sumber: Republika.co.id
loading...