Pengaruh Kuliner Dunia Islam Saat ini

makanan beraroma Andalusia abad pertengahan masih bisa didapati di Amerika Latin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada abad ke-19 dan 20, ekspansi Kerajaan Inggris, Prancis, dan Rusia serta kontraksi di internal Dinasti Utsmaniyah dan Mughal menimbulkan friksi dan jurang politik antara dunia Islam dan Eropa. Globalisasi makanan Prancis di kalangan elite internasional dan makanan Anglo di kelas menengah demikian terasa.

Gelombang baru kemudian tercipta. Banyak rumah tangga membeli kompor gas dan listrik untuk menyederhanakan proses memasak. Komunitas Muslim sering berkumpul bersama saat Ramadhan dan bulan-bulan haji. Buku-buku masakan baru ditulis dan mereduksi makanan yang sebarannya luas menjadi makanan nasional, termasuk di dalamnya mengandung unsur ekonomis.

Pada 1980-an, perubahan pada makanan tradisional juga terjadi. Pada 1980, satu kelompok koki profesional dan sejumlah ibu rumah tangga menulis buku resep lokal Timur Tengah di tengah pengaruh budaya Barat. Saat hamburger mulai masuk, kedai makanan lokal, dan restoran elegan bercita rasa tradisional juga berdiri.

Pada era yang sama, makanan beraroma Andalusia abad pertengahan masih bisa didapati di Amerika Latin. Bahkan, sebagian di antaranya menjadi makanan khas Meksiko. Kesamaan pada pilau, bola daging, dan kari menunjukkan kesamaan akar.

Berabad-abad lamanya pengaruh itu terus berlanjut di berbagai belahan bumi. Pada akhir abad ke-19, evolusi sikbaj kemudian menjadi fish and chips yang kita kenal hari ini berasal dari Inggris. Pada abad ke-20, kedaikedai kopi waralaba jaringan global tetap jadi tempat diskusi politik dan ekonomi dari Jepang hingga Brasil.

Di tepian jalan Eropa, penjual daging panggang yang dibungkus roti dan diberi saus yogurt dikenal sebagai doner kebab. Di Meksiko, tanpa saus yogurt, makanan serupa itu dikenal sebagai tacos daging iris. Baklava dan kudapan yang terpengaruh peradaban Islam kini jadi industri di Turki. Couscous menjadi makanan utama di Prancis. Yogurt bahkan jadi hidangan lazim dalam menu sarapan orang Eropa dan Amerika. Begitu pula di India, Cina, dan kawasan Asia.

Pada 1930-an, Maxime Rodinson, Daub Chelebi, dan AJ Arberry secara serius meneliti kuliner dunia Islam abad pertengahan untuk pertama kalinya. Sejak itu, para ilmuwan mulai menelusuri kembali perkembangan kuliner Islam yang ternyata memengaruhi dunia modern saat ini.

Lewat riset yang mereka lakukan, ketiga peneliti itu berjasa menemukan benang merah antara makanan haute cuisine di Prancis, tart di Peru, fish and chips yang sederhana di Inggris, gulab jamun di India, hingga julep mint di Amerika.



Sumber: Republika.co.id
loading...