Saladin, Sang Jenderal yang Unik

Saladin mempunyai kesopanan yang tak perlu diragukan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saladin adalah seorang jenderal yang unik. Selain bakatnya sebagai komandan, pengatur strategi dan perencana, Saladin mempunyai kesopanan yang tidak perlu diragukan.

Meskipun ia bisa menjadi tidak fleksibel dan bahkan kejam, dia tidak me nyu kai pertumpahan darah. Satu-satunya noda dalam catatannya adalah eksekusi sekitar 300 kesatria dari dua klan militer utama, Templar dan Hospitaler, di Tiberias, beberapa bulan sebelum ia merebut Yerusalem.

Namun, dilihat dari konteks saat itu, eksekusi tersebut bukanlah suatu kejahatan. Bandingkan dengan perbuatan tentara salib ketika pertama kali menduduki Yerusalem pada 1099. Mereka membunuh 70 ribu warga Muslim dan Yahudi, termasuk perempuan dan anak-anak. Ketika Saladin merebut kembali kota itu, tidak ada penodaan tempat-tempat suci. Para peziarah Kristen diizinkan memasuki tempattempat ibadah me reka.

Sang sultan tampaknya merasa tang gung jawab barunya menuntut untuk lebih menahan diri. Beberapa tahun kemudian, saat pengepungan Acre yang terkenal, Raja Inggris Richard the Lion Heart melanggar kesepakatan dan membantai seluruh 3.000 penjaga kota.

Saladin me maafkan kejahatan Richard ini. Selama pertempuran di Jaffa, kuda Richard te was di hadapannya. Saladin lalu me ngiriminya kuda pengganti disertai pesan, "Tidak benar prajurit yang begitu berani harus bertempur tanpa kuda."

Saladin lebih memilih negosiasi dan diplomasi daripada pertempuran. Perang baginya adalah sarana terakhir yang diperlukan untuk mencapai tujuan setelah usaha lain gagal. Berulang kali ia menemukan dirinya dalam kesulitan karena usahanya mengobarkan perang yang manusiawi. Meskipun di Barat ia digambarkan sebagai lonceng kematian Kristen dan musuh terburuk, ia tampaknya memiliki pendekatan bertingkat terhadap Kristen.

Semangatnya tidak pernah goyah untuk mengusir kaum Franka keluar dari Tanah Suci. Tapi, ketika berhadapan dengan orang Kristen, ia menunjukkan rasa hormat dan bahkan mengagumi keyakinan mereka. Hal ini dapat dilihat pada keputusannya untuk tidak meruntuhkan Gereja Makam Suci (Hoy Sepulchre). Para pendeta diberi keleluasaan untuk menerima peziarah.



Sumber: Republika.co.id
loading...