Doa

Kebanyakan orang berdoa ketika susah, sulit atau tertimpa musibah.

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Ahmad Agus Fitriwan

Sebagai makhluk yang lemah, manusia memerlukan perlindungan dan landasan yang dapat menenteramkan jiwanya dan menjadi tempat segala pengharapannya. Landasan yang dimaksud itu adalah doa, dan tempat perlindungan yang dapat menenteramkan jiwa serta menjadi tempat tumpuan segala pengharapan adalah Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam (QS al-Ikhlas [112]: 2).

Kebanyakan orang baru berdoa kepada Allah jika mendapat kesulitan, kesusahan, atau ditimpa suatu problem berat yang tidak dapat diatasi. Namun, jika berada dalam keadaan senang, sehat, dan penuh kenikmatan, kebanyakan orang melupakan Tuhannya. Bahkan, ada yang menyangka bahwa kesenangan, kesehatan, dan kenikmatan yang ia peroleh itu adalah semata-mata atas usahanya sendiri, bukan atas anugerah pemberian Tuhan.

Sikap orang yang demikian itu tidaklah benar. Sebab, ia tidak dapat meletakkan doa pada fungsi yang proporsional, tetapi doa hanya sebagai tempat pelarian untuk memperoleh jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi. Doa hanya dipandang sebagai kebutuhan temporer dan sekunder. Jika ia mendapatkan musibah berupa kesulitan dan bencana yang tak bisa diatasi, barulah ia merasa perlu untuk berdoa.

Sikap dan sifat yang seperti itu rupanya telah menjadi tabiat manusia dan dilukiskan dalam Alquran. Firman Allah SWT: "Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah ia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan." (QS Yunus [10]:12).

Orang mukmin seharusnya meletakkan doa sebagai satu ibadah yang harus dikerjakan dengan kontinu tanpa memandang waktu dan keadaan. Dengan perkataan lain, dia harus berdoa, baik pada waktu senang maupun dalam waktu susah, pada waktu luang ataupun sibuk.

Bahkan, doa yang selalu dilakukan pada waktu senang memiliki pengaruh positif dengan doa yang dipanjatkan pada waktu susah. Dalam salah satu hadis disebutkan: "Barang siapa yang ingin doanya dikabulkan Tuhan di waktu mendapat kesusahan, hendaklah ia senantiasa berdoa di waktu senang."

Oleh karena itu, berdoa adalah fitrah atau hajat rohaniah yang diperlukan manusia. Berdoa adalah suatu ibadah. Maka, haruslah dipanjatkan atau dihadapkan hanya kepada Allah SWT semata. Sebab, Allah-lah yang dapat memberikan manfaat dan faedah kepadanya.

Doa yang dipanjatkan dengan cara jujur dan tulus dapat memberikan semangat kepada seseorang untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Tak hanya itu, doa juga dapat menerangi seseorang untuk mengatasi berbagai problem hidup yang merintanginya. Oleh karena itu, tepatlah jika Imam al-Ghazali mengumpamakan doa sebagai perisai yang dapat menangkis senjata yang tajam sekalipun. Wallahu a'lam. 



Sumber: Republika.co.id
loading...