Penipu yang Dijebak agar Mengakui Kebohongannya

KETIKA Iyas bin Muawiyah bin Qurrah al-Muzanni menjabat sebagai qadhi atau hakim telah terbukti bahwa dia benar-benar orang yang cerdas, lihai, dan memiliki kemampuan besar dalam menyingkap hakikat suatu masalah sampai seakar-akarnya.

Pernah terjadi sengketa antara dua orang. Yang satu berkata bahwa dia telah menitipkan sejumlah harta kepada temannya, tetapi ketika ia memintanya lagi, temannya itu mengelaknya. Iyas bertanya kepada tertuduh dan dia tetap mengingkarinya sambil berkata: "Bila kawanku ini punya bukti, silakan didatangkan, kalau tidak maka tiada jalan baginya untuk menjatuhkan aku kecuali dengan sumpah."

Iyas khawatir jika orang itu makan harta yang bukan haknya dengan sumpahnya. Maka dia berpaling kepada si penuduh dan bertanya: "Di manakah tempat engkau menitipkan harta itu kepadanya?" Dia berkata, "Di suatu tempat bernama anu." Iyas bertanya, "Bagaimana ciri-ciri tempat itu?"

Penuduh menjawab, "Di sana ada sebatang pohon besar. Kami duduk dan makan bersama dan ketika kami hendak beranjak pulang, kuserahkan harta itu kepadanya." Iyas berkata kepadanya: "Pergilah ke tempat yang terdapat pohon tersebut, karena bila engkau mendatanginya bisa jadi akan mengingatkanmu di mana telah kau letakkan barang tersebut, setelah itu segeralah kembali ke sini untuk mengabarkan apa yang engkau dapatkan di sana.

Kemudian pergilah orang itu, sementara Iyas berkata kepada si tertuduh yang masih berada di hadapannya: "Tunggulah di sini sampai kawanmu kembali." Iapun duduk menanti. Kemudian Iyas mengurus perkara-perkara lainnya sambil terus mengamati tertuduh secara diam-diam. Setelah dilihatnya dia agak tenang, Iyas bertanya, "Apakah kiranya kawanmu itu sudah sampai di tempat di mana ia menitipkan hartanya kepadamu?"

Tanpa menyadari jebakan Iyas tersebut ia menjawab, "Belum, karena tempatnya jauh dari sini." Mendengar jawaban tersebut Iyas sudah bisa menebak apa yang terjadi sesungguhnya, beliau berkata, "Wahai musuh Allah, engkau hendak memungkiri harta itu sedangkan engkau tahu di mana tempat engkau menerimanya." Orang itu tak bisa berkutik lagi, lalu mengakui khianatnya, Iyas memanggil polisi untuk menahannya sampai kawannya datang. Setelah kawannya tiba, dia diperintahkan untuk mengembalikan hartanya.

[baca lanjutan]



Sumber: Inilah.com
loading...