Tak Mahal, Kemerdekaan Diri yang Membahagiakan

SAYA ada di sebuah dataran terendah sebuah pegunungan, duduk santai dengan seorang kiai sepuh dengan secangkir kopi racikan istimewa dan kerupuk nasi yang terkenal dengan sebutan rengginang. Perbincangan bersifat serius tapi santai, diiringi alunan suara kodok yang mengingatkan saya pada masa kecil saya. Diskusi tentang capres menjadi salah satu temanya. Namun, bukan hal ini yang akan saya kisahkan.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tinggal di desa itu sesungguhnya memiliki potensi membahagiakan yang lebih besar dibandingkan dengan tinggal di kota, dari sisi rendahnya godaan untuk berkeinginan yang melahirkan persaingan atau kompetisi hidup yang ketat. Orang desa yang tak memiliki akses lancar pada dunia online mencukupkan diri pada hiburan rakyat lokal. Untuk tertawa mereka tak butuh membeli kuota internet, cukup jalan kaki ke kampung sebelah. Untuk tahu berita mereka tak perlu membuka Youtube atau medsos, cukup ke warung kopi di pojok desa. Murah meriah.

Orang desa itu lebih merdeka dibandingkan dengan orang kota yang seringkali terpenjara oleh sekat politik dan sekat sosial, yang terikat oleh "etika peradaban modern". Orang desa bebas mandi di sungai, bebas berhujan-hujanan sambil mengejar burung yang sulit terbang karena basah oleh hujan, bebas makan sambil mengangkat lutut sebelah tanpa sendok dan garpu. Hal ini jarang bisa dilakukan di kota.

Keakraban orang desa tidak karena kepentingan politik atau bisnis melainkan karena kesadaran bahwa kalau mati nanti pasti butuh orang lain untuk mengantarkannya ke pekuburan. Kita jumpai kehangatan bermasyarakat hampir setiap hari di sungai desa, di mana masyarakat bergantian saling gosok batu di punggung guna membersihkan kotoran sawah selepas kerja. Sabun bukan peradaban desa, ia peradaban kota. Mereka mandi sambil cekikikan bahagia. Murah sekali.

Lalu mereka shalat berjamaah di langgar (mushalla), melaporkan diri kepada Allah segala yang dihadapinya lalu mensyukuri apa yang dipunya. Makan siang pun dihidangkan; nasi jagung, sayur (jangan) kelor dan sambel terasi serta ikan kering. Mereka lahap memakannya dan bersyukur bahagia. Murah sekali bukan?

Ternyata, rahasia di balik kebahagiaannya yang murah meriah itu adalah kebebasan dirinya dari keinginan-keinginan muluk yang membelenggu. Mereka merdeka dari perbudakan hawa nafsu. Mereka berprinsip "jalani apa yang ditakdirkan dan teruslah bersyukur." Ini persis dengan kesimpulan kitab Imam Tajuddin as-Subki as-Syafi'i yang berjudul Mu'id an-Ni'am wa Mubid an-Niqam. Salam dari desa, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...