Betapa Besarnya Bobot Kalimat Tauhid

Kisah tentang hamba Allah berikut menunjukkan besarnya bobot kalimat tauhid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki jiwa tauhid berarti tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Esensi tauhid terdapat dalam kalimat yang mulia, Laa ilaaha illa Allah. Maknanya, 'tidak ada zat yang berhak disembah kecuali Allah.'

Di antara begitu banyak hadits Rasulullah Muhammad SAW, terdapat beberapa yang disebut hadits bitoqoh (kartu sakti) karena berisi hikmah tentang betapa besarnya bobot kalimat tauhid. Dalam hadits berikut, yang diriwayatkan 'Abdullah bin Amr, disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda tentang seseorang di Hari Kiamat.

Seluruh amalan orang itu semasa hidup di dunia sedang ditimbang. Maka dibentangkanlah seluruh catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. "(Luas) setiap kartu itu sejauh mata memandang," terang Rasulullah SAW.

Sang Pencipta kemudian bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengingkari satu pun dari catatan amal perbuatanmu ini?"

"Tidak sama sekali, wahai Tuhanku," jawab hamba tadi.

"Adakah yang mencatat catatanmu ini berbuat zalim kepadamu? Apakah engkau memiliki alasan atau adakah kebaikan (yang belum didatangkan) di sisimu?" firman Allah lagi kepadanya.

"Tidak," jawab si hamba.

"Sesungguhnya ada kebaikanmu yang Kami catat. Maka, kamu tidaklah termasuk orang-orang yang zalim pada hari ini," firman Allah.

Kemudian, dihadirkanlah satu kartu sakti (bitaqah). Di atasnya tertulis kalimat Laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasulullah. Melihat itu, hamba tersebut bertanya, "Apakah kartu ini akan diletakkan (di timbangan, berhadapan) dengan kartu-kartu amalanku yang penuh dosa?"

Allah meletakkan kartu bitaqah tersebut di atas timbangan amal kebaikan. Seketika, timbangan itu berubah keadaannya. Kini, bagian yang menandakan kebaikan jauh lebih berbobot ketimbang yang amal keburukan.



Sumber: Republika.co.id
loading...