Gibah Cederai Toleransi

Menggibah sekilas tampak seperti bentuk kebebasan berbicara.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wisnu Tanggap Prabowo

Setiap orang bebas menggunakan lisannya. Namun, dengan kebebasan menuntut ilmu, kita dapat meraih kebebasan yang bertanggung jawab. Adapun menggibah orang lain merupakan penyalahgunaan kebebasan dalam berbicara. Perbuatan tersebut merupakan kebebasan tanpa ilmu dan kebebasan yang tak bertanggung jawab.

Kebebasan yang selaras dengan nilai-nilai Islam bukanlah kebebasan untuk melakukan apa yang diingini saja. Menuruti seluruh keinginan bukanlah kebebasan hakiki. Bahkan, dalam beberapa hal, perbuatan semacam itu menjadi tanda terpenjaranya diri. Dalam Islam, kebebasan menggandeng ilmu menuntut kedisiplinan. Di antaranya kedisiplinan mengendalikan keinginan lisan untuk menggibah orang lain.

Tariq Ramadhan pernah berkata, kebebasan adalah pengendalian emosi, adapun selalu menuruti emosi adalah kebebasan ala konsumerisme. Mungkin Tariq Ramadhan hendak mengisyaratkan, mengendalikan hawa nafsu merupakan jalan menuju kebebasan hakiki, sementara memperturutkan ke mana hawa nafsu mengajak merupakan bentuk keterpenjaraan seorang hamba Allah.

Selain itu, Ibnu Taimiyah pernah berkata, kebebasan hakiki adalah beribadah kepada Allah, sedangkan mereka yang hendak menyerahkan dirinya (taslim) untuk menyembah Allah saja dan tidak mempersekutukan Dia dengan selainnya (Tauhid) adalah kebebasan sejati seorang hamba di dunia maupun akhirat (al-Ubudiyah).

Menggibah sekilas tampak seperti bentuk kebebasan berbicara. Namun, hal itu akan membunuh kebebasan orang lain yang digibahinya. Akibatnya, aib orang lain terkuak dan tersebar sehingga berbuntut terbelenggunya kehormatan orang lain. Kebebasan semisal itu berbuntut pada terpenjaranya hak orang lain dan merupakan bentuk kebebasan tidak bertanggung jawab. Pasalnya, ia menyelisihi ilmu yang datang dari Alquran dan sunah.

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." [al- Hujurat: 12].

Dari ayat di atas, gibah tidak saja "mencederai" kebebasan orang lain untuk tidak diumbar aibnya, tetapi juga bentuk "kanibalisme". Rasulullah bersabda, "Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci." (HR Bukhari-Muslim).

Menggibah atau menggosip adalah bentuk intoleransi yang nyata meski dilakukan terselubung di belakang saudaranya. Lalu, kita tidak bisa bayangkan, bagaimana jadinya jika kita menggibahi saudara kita dengan berita hoaks? Sudahlah kita menggibah, hoaks pula yang kita sebarkan.

Kebebasan dalam Islam menggandeng ilmu yang dilandasi dengan tanggung jawab. Kebebasan dalam Islam adalah kedisiplinan mengendalikan hasutan setan, di antaranya hasutan untuk bebas menggibah dan menyebar hoaks. Wallahualam.



Sumber: Republika.co.id
loading...