Ketika Syekh Yasin al-Fadani Hampir 'Lupa' Menikah

Syekh Yasin al-Fadani sangat giat mendalami ilmu-ilmu agama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Telah dipaparkan sebelumnya, betapa Syekh Yasin al-Fadani gemar melakukan rihlah dalam rangka keilmuan agama. Saat "pulang kampung", berkunjung ke Indonesia, biasanya hal itu dilakukannya untuk mengumpulkan sanad.

Baca juga: Ketika Syekh Yasin al-Fadani Berkelana Mencari Ilmu

Toh kesempatan ini tidak disia-siakan para murid dan ulama-ulama Indonesia untuk mendapatkan ilmu darinya. Beberapa ulama Nusantara, seperti KH Syafii Hazami, pernah berdiskusi dan bahkan meminta agar menerimanya menjadi murid.

Namun, permintaan itu ditolak halus Syekh Yasin al-Fadani. Sebab, dia merasa rendah hati. Yang diinginkannya adalah pertukaran keilmuan yang setara.

Pada 1979, Syekh Yasin al-Fadani menyempatkan diri untuk datang ke Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Kunjungan ini tentunya disambut antusias oleh kalangan tokoh dan warga NU seluruhnya.

Hampir 'Lupa' Menikah

Selain bidang keilmuan hadis, Syekh Yasin al-Fadani juga mendalami ilmu tasawuf, fiqih, dan ushul fiqih serta falak. Begitu giatnya Syekh Yasin al-Fadani menuntut ilmu sampai-sampai hampir "lupa" menikah.

Padahal, saat itu usianya sudah mau menginjak kepala empat. Ini lantas menjadi pikiran orang tuanya dan juga para rekan sejawat. Demikian pula, tidak sedikit kalangan elite terpelajar Haramain yang berkeinginan menjadikannya menantu lantaran besarnya nama baik yang melekat pada diri Syekh Yasin.

Oleh karena tidak kunjung juga mendapatkan ketegasan dari anaknya itu, maka orang tua Syekh Yasin mendesak. Maka menikahlah Syekh Yasin tepat ketika usianya 40 tahun.

Syekh Yasin al-Fadani hidup dengan sederhana. Dia tidak jarang dijumpai di pasar atau warung kopi di Arab. Demikianlah, kadar keilmuan seseorang tidak menjadikannya berjarak dengan lingkungan sosial.

Sebaliknya, orang-orang pun menaruh respek terhadap sosok yang belasan tahun lamanya menjadi kepala Madrasah Darul Ulum itu di Makkah. Syekh Yasin al-Fadani wafat pada Jumat, 20 Juli 1990. Jasadnya dikubur di kompleks permakaman Ma'la. Dia meninggalkan seorang istri dan empat orang putra.

Baca juga: Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Sang 'Musnid ad-Dunya'



Sumber: Republika.co.id
loading...