Sejarah Negeri Uni Emirat Arab (4)

Inilah masanya ketika Uni Emirat Arab mulai fokus pada sektor pariwisata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di bawah kepemimpinan Syekh Zayid bin Sultan al-Nahyan, Uni Emirat Arab (UEA) berkembang menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Nilai produk domestik bruto per kapitanya melejit menjadi lebih dari 17 ribu dolar Amerika Serikat (AS) per tahun.

Tentu ada faktor kebijakan-kebijakan pemerintah setempat yang berpihak pada kemajuan. Sebagai contoh, sepanjang periode 1980-1990, negara tersebut mulai berfokus pada sektor pariwisata untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Artinya, rezim setempat telah mempersiapkan sedini mungkin ceruk bisnis di luar minyak dan gas alam. Sebab, "emas hitam" bukanlah sumber daya alam yang baru-terbarukan, sehingga kelak akan habis.

Secara geografis, UEA sangat strategis di pesisir Teluk Persia. Bagaimanapun, tidak banyak keuntungan yang diraih saat sebelum ditemukannya minyak.

Beberapa tahun setelah mengumumkan kemerdekaan, UEA nyaris terisolasi dari laju perekonomian dunia. Pelabuhan-pelabuhan yang dimilikinya jauh dari kesan modern. Setiap jalan yang menghubungkan emirat satu dengan lainnya sangat tidak kondusif. Hamparan padang pasir menjadi pemandangan yang monoton, membawa debu dari sapuan angin gersang.

Masyarakat setempat harus terbiasa dengan teriknya sinar matahari dan angin dingin yang menusuk tulang di malam hari. Maka dari itu, UEA tidak menjadi pilihan utama bagi setiap pelancong dari luar negeri. Bandar udara yang dibangun pertama kali di persekutuan emirat tersebut jauh dari kesan ramai dan nyaman.

Rata-rata hanya satu penerbangan yang berangkat dari fasilitas umum tersebut setiap pekan.

Keadaan UEA berubah drastis sekitar empat dasawarsa kemudian. Dunia menyaksikan perubahan yang amat signifikan pada negara yang menjadikan Burung Falkon sebagai lambang nasional itu.

Dengan berfokus pada sektor pariwisata, negara yang memiliki luas 83.600 km persegi ini melihat adanya harapan baru. Pemerintah setempat begitu serius menggarap potensi turisme, sehingga pemasukan yang besar dari perminyakan digunakan untuk membangun macam-macam destinasi wisata baru.

Ada satu kendala awal, yakni mayoritas tanah di UEA ditutupi padang pasir. Bagaimanapun, keterbatasan lahan tidak menjadi pemupus harapan. Maka dibangunlah pulau-pulau reklamasi yang diproyeksikan secara besar-besaran sebagai kawasan wisata dunia.

Sebut saja, Kepulauan Palem (Palm Islands), yang dinamakan demikian karena bila dari angkasa bentuknya menyerupai pohon palem. Posisinya terletak di lepas pantai Dubai dan terdiri atas tiga pulau buatan, yakni Palm Jumeirah, Pulau Deira, dan Pulau Jebel Ali. Proyek ambisius ini dimulai pada 2001.

Baca juga: Sejarah Negeri Uni Emirat Arab (5-habis)



Sumber: Republika.co.id
loading...