Agar Iman tak Berkurang dan Rusak

Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Iman bukanlah (perkara) angan-angan.'

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: H Rusydi

Di masa Rasulullah SAW masih hidup pernah terjadi peristiwa ketika pengakuan iman sekelompok orang Arab Badui ditolak oleh Allah SWT. Ini dijelaskan dalam Alquran surat Al Hujurat ayat 14: "Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah (Ya Muhammad kepada mereka): Kamu belum lagi beriman, tetapi katakanlah 'Kami baru menyerahkan diri'. (Karena) Belum lagi masuk iman itu ke dalam hatimu. Dan jikalau kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidaklah Dia akan mengurangi amalmu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Mengapa iman orang Arab Badui itu ditolak, padahal mereka telah menyatakannya langsung di hadapan Rasulullah? Rupanya, ada yang kurang. Iman tidak cukup hanya sekadar pengakuan, tapi harus disertai dengan ketaatan. Ada dua bentuk taat, yaitu taat menjalankan perintah dan taat dalam meninggalkan larangan. Keduanya termasuk ke dalam apa yang disebut amal saleh.

Dengan demikian, orang yang mengerjakan perintah seperti salat, berarti dia telah beramal saleh. Dan orang yang tidak mau korupsi, misalnya, padahal ada kesempatan untuk itu, dia juga telah beramal saleh. ''Iman bukanlah angan-angan,'' sabda Nabi Muhammad SAW, ''tetapi suatu kekuatan dalam dada yang menggerakkan seseorang untuk beramal.''

Dalam hadis lain, Nabi SAW memerintahkan, ''Perbarui terus imanmu, sebab iman itu dapat bertambah dan dapat berkurang.'' Dengan kata lain, iman seseorang itu dapat bertambah serta berkurang, dan itu berkait erat dengan ketaatannya. Makin taat mengerjakan perintah Allah SWT, makin bertambah imannya. Sebaliknya, makin sering melanggar larangan-Nya, makin berkurang pula imannya.

Bahkan, iman tidak saja dapat makin berkurang, tapi dapat pula mengalami kerusakan. Kerusakan iman dapat terjadi pada diri seseorang bila orang itu telah tidak merasa berdosa lagi melakukan suatu perbuatan yang salah. Sebagai misal, dia tidak merasa berdosa melakukan korupsi, pungli, menyalahgunakan kekuasaan, menganiaya orang, membunuh orang, minta uang semir agar semua berjalan beres, dan seterusnya.

Kerusakan iman adalah penyakit yang parah pada seorang pribadi, tapi lebih parah lagi terjadi pada seorang pribadi yang sedang berkuasa dan berkekayaan. Bila orang yang rusak imannya ini adalah orang yang sedang berkuasa dan berkekayaan, akan timbul dua kerusakan sekaligus: kerusakan pribadinya dan kerusakan masyarakat yang timbul karena pribadinya.

Korupsi, pungli, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan, hanyalah sekadar contoh dari perbuatan yang merusak pribadi si pelaku dan sekaligus masyarakat. Sebab masyarakat menjadi sapi perahan dan tidak tahu lagi kemana mencari perlindungan, karena pagar telah makan tanaman. Dalam usaha menegakkan disiplin nasional, semoga bangsa dan penguasa negeri ini dikuatkan imannya.



Sumber: Republika.co.id
loading...