Mengenal Taqi al-Din, Ilmuwan Multitalenta

Taqi al-Din yang lahir pada 1521 M mengabdikan dirinya untuk pengembangan iptek.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Nama lengkapnya, Taqi  al-Din Abu Bakar Muhammad bin Zayn al-Din Ma'ruf al-Dimashqi al-Hanafi. Namun, ilmuwan Muslim kelahiran Damaskus, Suriah, yang mendunia pada abad ke-16 M ini lebih dikenal dengan nama yang lebih singkat: Taqi al-Din Muhammad Ibnu Ma'ruf. Dialah ilmuwan yang memberi kontribusi besar bagi perkembangan ilmu matematika, astronomi, optik, dan mekanika hingga kini.

Taqi al-Din yang lahir pada 1521 M mengabdikan dirinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kekhalifahan Turki Utsmani. Salah satunya mengabdi sebagai kepala observatorium. Dia meninggal di Istanbul pada 1585 M.

Pada era itu, tak ada ilmuwan di Eropa yang mampu menandingi kepakarannya. Hal ini bisa dipahami karena Taqi al-Din adalah ilmuwan multitalenta yang menguasai berbagai disiplin ilmu.

Dikenal sebagai astronom andal, ia juga termasyhur sebagai astrolog, insinyur, ahli fisika, pakar matematika, dokter, hakim Islam, ahli botani, filsuf, ahli agama, dan guru madrasah. Dunia ilmu pengetahuan modern juga mengakuinya sebagai ilmuwan yang sangat produktif.

Setidaknya, lebih dari 90 judul buku dengan beragam bidang kajian telah ditulisnya. Sayangnya, hanya tinggal 24 karya monumentalnya yang masih tetap eksis. Sederet penemuannya juga sungguh menakjubkan. Pencapaiannya dalam menemukan berbagai alat mendahului para ilmuwan Barat.

Dalam bukunya berjudul al-Turuq al-Samiyya fi al-Alat al-Ruhaniyya, sang ilmuwan serba bisa ini memaparkan cara kerja mesin uap air dan turbin uap air. Padahal, ilmuwan Eropa Giovani Branca baru menemukan tenaga uap air pada 1629 M.



Sumber: Republika.co.id
loading...