'Orang-orang Sakti' Menyebar Sampai Pelosok Desa

BARU saja saya keliling perkampungan yang sangat kampung sekali. Ukuran kampung sekali itu adalah tiadanya kamar mandi dan toilet yang perannya diwakili sungai serta gaya hidup yang serba alami. Yang disuguhkan pada saya adalah degan (kelapa muda) yang baru dipetik di pohonnya. Duduknya di atas bangku dingklik buatan sendiri. Pemandangannya adalah burung yang beterbangan di atas padi yang mulai menguning.

Saya mencoba memancing obrolan tentang Pilpres dan Pileg yang baru minggu lalu berlangsung. Mereka ternyata antusias sekali melebihi pemilu masa-masa sebelumnya. Ada banyak peristiwa unik yang terjadi yang luput dari liputan media massa, mulai dari timses yang stress sampai percobaan bunuh diri sampai pada bagaimana transaksi money politics terjadi di perkampungan.

Orang kampung sudah mengenal uang juga rupanya. Entah siapa yang mengajari. Namun, bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin berbagi kisah tentang "orang-orang sakti" yang bisa mengubah angka dan melenyapkan fakta.

Ada tokoh yang hampir semua masyarakat telah bersepakat mencoblosnya dan telah mengaku mencoblosnya namun ternyata dalam hitungannya tidaklah imbang, alias suaranya hilang. Mungkin pindah ke calon yang lain. Yang mengubah angka atau menghilangkan fakta suara hanyalah orang-orang sakti.

Ada tiga keluarga besar yang berkumpul mengelilingi saya saat bertamu itu. Mereka memiliki 20 hak pilih politik yang semuanya mengaku haqqul yaqin mencoblos tokoh A. Namun di TPS itu, si calon A itu hanya tercatat memperoleh 5 suara. Harusnya, minimal 20 suara, kalau tetangga lainnya memang tidak ada yang memilih A juga. Lalu kemana larinya suara mereka? Tentu telah berubah di tangan orang-orang sakti itu.

Kalau begitu, yang terpilih belum tentu calon pilihan. Yang tak terpilih belum tentu calon yang tak laku. Namun bagi saya, manusia terpilih adalah manusia yang mampu merebut hati nurani masyarakat. Lebih dari itu, orang-orang sakti yang saktinya bukan karena bertapa mendekat kepada Allah, melainkan karena uang dan kuasa, pada waktunya akan hilang kesaktiannya dan lumpuh menderita. Hanya soal waktu.

Lalu, saya sempatkan menelpon calon yang suara untuknya telah lenyap secara misteri itu. Beliau cuma tersenyum dan berkata: "doakan saya bisa tetap berbuat untuk masyarakat." Setelah telepon ditutup, saya langsung mencari tahu nama dan alamat orang-orang sakti itu. Rupanya, mereka memang sakti. Kini menghilang dan diam seribu bahasa. Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...