Tinta Pemilu harus Halal dan Tak Halangi Air Wudu

SEKARANG yang jadi pertanyaan, bagaimana dengan tinta Pemilu? Apakah tinta Pemilu itu bersifat menutup dan menghalangi sampainya air ke ujung jari yang terwarnai itu?

Mari kita perhatikan baik-baik ketentuannya dan periksa langsung keadaannya. Memang dalam Peraturan No 16 tahun 2013 telah ditetapkan tentang Norma, Standar Kebutuhan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014. "Tinta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan sertifikat halal dan tidak menghalangi air untuk keabsahan wudhu dari Majelis Ulama Indonesia,"

Kalau memang dalam kenyataannya, tinta tersebut tidak menghalangi air untuk keabsahan wudhu, maka masalahnya sudah selesai. Sebab keberadaan tinta itu sama sekali tidak menghalangi air, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Kondisinya mirip dengan orang yang memakai hinna' atau pacar kuku, meski warna bertahan seterusnya pada kuku, tetapi sifatnya tidak membuat lapisan penghalang air. Dalam hal ini Al-Imam An-Nawawi rahimauhllah, dalam kitab fiqih mazhab Asy-Syafi'i, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, menjelaskan:

Jika di tangan masih ada bekas pacar kuku, dan warnanya, namun zatnya sudah hilang, atau bekas minyak kental, dimana air masih bisa menyentuh kulit anggota wudhu dan bisa mengalir di kulit anggota wudhu, meskipun tidak tertahan, wudhunya sah. (Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 468)

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, tinta Pemilu bersifat seperti pacar kuku ini. Ada warnanya dan tidak mudah hilang, namun sifatnya tidak membuat lapisan yang menghalangi air wudhu'. Maka pertanyaan Anda terjawab sudah bahwa tinta itu aman dan tidak menghalangi wudhu'.

[baca lanjutan]



Sumber: Inilah.com
loading...