Cara Nabi Muhammad Mencegah Pemuda Mau Berzina

Suatu kali, seorang pemuda mendatangi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abu Umamah radhiallahu anhu berkata, "Sesungguhnya telah datang seorang pemuda kepada Nabi SAW seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.' Para sahabat pun segera mencelanya begini-begitu (kalimat cercaan).

Nabi shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya, 'Kemari, mendekatlah!'

Pemuda itu pun mendekat, duduk di samping beliau. Nabi SAW kemudian bertanya, 'Apa engkau suka menzinai ibumu?'

Dia menjawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikanku enggan padanya. Tidak seorang pun sudi menzinai ibu sendiri.'

Nabi SAW bertanya lagi, 'Apakah engkau suka menzinai anakmu?'

Dia menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, Allah menjadikanku enggan padanya. Tidak seorang pun sudi menzinai anak sendiri.'

Nabi SAW menanyakan lagi, 'Apa engkau suka menzinai saudara perempuanmu?'

Dia menjawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikanku enggan padanya. Tidak seorang pun sudi menzinai saudara perempuan sendiri.'

Nabi SAW menanyakan lagi, 'Apa engkau suka menzinai bibimu?'

Dia menjawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikanku enggan padanya. Tidak seorang pun sudi menzinai bibi sendiri.'

Kemudian, Nabi SAW meletakkan tangannya di atas kepala pemuda itu, seraya berdoa, 'Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, dan jagalah kemaluannya.'

Pemuda itu pun tidak berminat pada zina lagi." (HR Ahmad).

Hadis itu menunjukkan, bagaimana kiat Rasulullah SAW dalam menyentuh hati seorang pemuda yang awalnya bernafsu ingin melakukan maksiat. Caranya bukan dengan mencerca, melainkan berdialog dengan mengutamakan bahasa empati dan kasih sayang.

Beliau menjadikan perempuan-perempuan terdekat si pemuda tadi sebagai perumpamaan. Dengan cara itu, Nabi SAW dapat mengubah pola pikir (mindset) pemuda tersebut. Dari yang hanya memikirkan diri sendiri, menjadi berpikir di posisi orang lain.

Ternyata, metode demikian dapat meluluhkan hati pemuda itu, sehingga ia mengurungkan niat maksiat. Pendekatan empatis ini tidak hanya menyentuh ruang keinsafan seseorang, tetapi juga membuatnya jujur serta mengikuti hati nuraninya sendiri.



Sumber: Republika.co.id
loading...