Fanatisme dan Fitnah yang Merusak

Kisah yang terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib ini dapat jadi pelajaran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika Ali bin Abi Thalib r.a, gugur ditikam seorang Khawarij (Abdurrahman bin Muljam) di Persia, Abdullah bin Saba menolak berita wafatnya khalifah keempat tersebut.

"Biar kau bawakan seribu saksi aku tak percaya kalau Imam Ali meninggal," kata Saba, seorang Yahudi asal Yaman, kepada komplotannya.

Sandiwara yang sangat meyakinkan tadi sempat mempengaruhi sebagian kalangan arus bawah Muslimin kala itu.

Akibatnya, muncullah kultus individu terhadap diri Ali r.a. Namun kultus pribadi itu, sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum itu.

Di'bil, seorang penyair terkenal waktu itu telah dihukum Sayidina Ali karena memuji dirinya dengan puisi-puisi kelewat batas. "Ada dua golonganku, keduanya celaka: yang mengultuskan aku secara tak proporsional dan yang membenciku berlebihan."

Menurut Ali r.a, mereka itu adalah orang bebal dan rendah budi. Mereka bergerak menurut arah angin, mengikuti yang keras kepala dan tidak mengambil petunjuk dari Alla, Alquran dan Hadis. Demikian dijelaskan Dr Sayid Musa Al-Musawi dalam satu bukunya.

Ada sekelompok orang yang tetap setia mengikuti Ali r.a. Mereka ini sejak zaman Nabi SAW dan para pemuka sahabat juga tampak solid bersama jamaahnya.

Untuk itulah Ali r.a, menyebut mereka sebagai kelompok tengah (ummatan wasathan). Beliau berkata, "Sebaik-baik urusan itu di jalan tengah. Tidak ekstrim dan juga tak terlalu moderat. Keluar dari jamaah alias mufarraqah berarti lepas dari tuntunan."

Satu di antara yang lepas itu adalah Amir bin Jarmuz. Dia termasuk sahabat yang termakan fitnah Saba -- pada saat Perang Onta.

Sebenarnya perang saudara ini tak akan meletus kalau saja Saba tak membuat berita bohong yang ditebar ke kedua kubu terhadap kesepakatan damai yang disetujui antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Aisyah, isteri Nabi SAW. Kedua kubu semula salah paham, peluang ini dimanfaatkan oleh munafik Yahudi agar kedua kubu saling memusuhi.

Namun setelah perang saudara berakhir dengan damai, Amir diam-diam memburu Zubair, pendukung Aisyah r.a di Mekah. Sewaktu sedang salat di Masjidil Haram, Amir membunuhnya. Ia lalu mempersembahkan sebelah tangan Zubair dan sebilah pedangnya sebagai bukti kesetiaan kepada Ali.

Namun tak dinyana, bukan pujian yang diterima Amir dari Ali, melainkan kemarahan dan penyesalan. ''Aku tahu siapa pemilik pedang ini. Dia pejuang di samping Rasulullah. Dia pahlawan Islam. Engkau telah mengakhiri hidupnya,'' sesal Khalifah Ali.



Sumber: Republika.co.id
loading...