Kisah dari Kamp Wunsdorf

Di Kamp Wundsdorf berdiri masjid pertama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tak ada masjid di Kamp Wunsdorf. Meski faktanya, di wilayah inilah masjid pertama berdiri di Jerman pada 1915 sebagai strategi memanfaatkan para pemuda Muslim untuk ber juang bersama Jerman pada Perang Dunia I.

Di tengah kecamuk Perang Dunia I itu, aristokrat Jerman, Max von Oppenheim me nyodori Kaisar Wilhelm II sebuah rencana. Untuk meningkatkan peluang Jerman meme nangkan perang, menurut Oppenheim, Jerman harus memanfaatkan tentara Muslim dari Rusia, Inggris, dan Prancis dengan menjamin praktik keyakinan agama mereka sehingga mereka mau bergabung dengan Jerman melawan tentara Rusia, Inggris, dan Prancis yang ber sekutu.

Pada 1914, Oppenheim menulis, "Dalam perlawanan terhadap Inggris, Islam akan jadi salah satu senjata penting kami.''

Rencana pembentukan aliansi Jerman dan Turki Utsmani pun secara resmi dinyatakan SultanTurki Mehmed V tak lama setelah perang pecah. Dari sebuah masjid di Konstantinopel, Sultan Mehmed V mengumumkan bahwa Ing gris, Prancis, dan Rusia merupakan musuh Islam. Sultan juga mengajak semua Muslim untuk melawan penjajahan yang dilakukan tiga negara itu.

Pada tahun yang sama, dua kamp tahanan perang dibangun di Wunsdorf dan Zossen. Halbmondlager Wunsdorf (Kamp Bulan Sabit) diisi 5.000 tahanan yang mayoritasnya Muslim. Sementara, Kamp Tahanan Zossen menam pung 12 ribu tahanan.

Para tahanan yang ditangkap dari Pasukan Sekutu umumnya berasal dari koloni India dan Afrika seperti Crimea, Kazan, dan Kaukasus. Kala itu, Kamp Wunsdorf tidak terlalu padat dan dikelola sipir yang ramah.

Sang sipir memberi kebebasan kepada tahanan untuk melaksanakan ajaran agama mereka. Bahkan, pada Ramadhan 1915, sebuah masjid berdiri di Kamp Wunsdorf lengkap dengan mihrab dan menara.



Sumber: Republika.co.id
loading...