Konstantinopel, Kota Tujuh Bukit

Konstantinopel awalnya dibangun oleh orang-orang Yunani dari Megara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konstantinopel awalnya dibangun oleh orang-orang Yunani dari Megara, kota sebelah barat Athena, pada 660 SM. Koloni Yunani itu didirikan di tempat yang dikenal sebagai Bukit Pertama dari tujuh bukit yang terletak di antara perairan Teluk Golden Horn dan Selat Bosporus, tempat air keduanya bertemu dan mengalir bersama menuju Laut Marmara.

Ketika Kaisar Konstantin memutuskan untuk memindahkan pusat kerajaannya ke Romawi Timur, dia mulai membangun Konstantinopel pada 330 M. Mulailah dibangun perbentengan yang melingkupi empat bukit. Tembok tak hanya dibangun di sisi laut, tapi juga sisi daratan. Lalu, pada 448 M, Kaisar Theodisius II membangun tembok baru sepanjang satu mil yang kemudian bisa menutupi seluruh tujuh bukit.

Enam bukit Konstantinopel menjulang berjajaran di sepanjang pesisir selatan Golden Horn, sementara bukit ketujuh terletak di pojok barat daya kota menghadap ke Laut Marmara. Enam bukit dan bukit ketujuh dipisahkan oleh lembah da lam dari Sungai Lycus yang mengalir ke kota melalui bawah tembok Theodosian, lalu menuju ke Laut Marmara. Pada Istanbul modern, aliran Sungai Lycus telah dibangun menjadi sebuah kanal.

Menurut John Freely dalam bukunya A History of Ottoman Architecture,pada abad ke-5 M kota Bizantium itu telah dikelilingi oleh tembok pertahanan yang sangat kuat. Benteng terbentang dari Golden Horn sampai ke Laut Marmara melindungi bangunan akropolis di puncak Bukit Pertama dan bagian bawah kota beserta pelabuhan yang terletak di mulut Golden Horn.

Bagian utara kota yang terletak di seberang Golden Horn lebih dikenal dengan nama Galata atau Pera. Pada masa akhir kekuasaan Bizantium, Galata diperkuat dengan benteng yang dibangun oleh orang-orang Genoa, Italia. Di puncak perbentengan itu, dibangun Menara Galata yang kemudian disambung dengan tembok-tembok yang kokoh menuju ke Selat Bosporus dan Golden Horn.

Ketika Konstantinopel di pesisir selatan Golden Horn jatuh ke tangan Sultan Fatih pada 29 Mei 1453 maka perbentengan Galata langsung menyerah pada hari itu juga tanpa perlawanan.



Sumber: Republika.co.id
loading...