Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

Islam mengajarkan umat untuk mengonsumsi makanan yang baik dan halal serta secukupnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di zaman post-modern sekarang ini, makan dan sajian makanan sudah menjadi hal yang kompleks. Lebih-lebih di kota besar, ketika sebagian orang mencari sesuap nasi sejak dini hari, sebagian yang lain justru baru pulang dari makan dan minum di bar-bar atau kafe.

Tingkah manusia dalam soal makan juga macam-macam. Kita sering mendengar sindiran, bahwa kalau orang miskin masih bingung mesti makan 'apa' hari ini, maka orang kaya selalu bingung makan 'di mana'. Adapun mereka yang teramat kaya (dan tidak punya moral Pancasila) -- dan duitnya berlimpah dari kredit bermasalah, misalnya -- sudah tidak memikirkan makan 'di mana', tapi lebih dari itu: makan 'siapa' hari ini.

Terlepas dari kelakar tadi, Islam sendiri sebetulnya membolehkan kita makan apa saja, kecuali yang jelas-jelas haram -- dan itu sangat sedikit macamnya. Meski begitu, dalam soal makan ini Alquran menggarisbawahi: 'jangan berlebih-lebihan' dan semua makanan harus tayyiban bagi tubuh kita.

Para ahli tafsir mengartikan tayyiban sebagai yang memberi manfaat bagi tubuh, bergizi. Kolesterol dalam daging sapi memang halal, tapi tidak tayyib bagi orang yang mempunyai penyakit darah tinggi. Perintah makan -- yang di dalam Alquran disebut sebanyak 187 kali dalam berbagai konteks dan arti -- selalu menekankan salah satu dari dua hal itu, yakni makanan harus 'halalan' dan 'tayyiban'.

Mereka yang kaya juga boleh makan 'apa' saja (bukan 'siapa' saja), sepanjang kekayaannya bukan berasal dari sumber yang haram. Namun yang perlu diingat, sekaya apa pun kita, toh kemampuan perut tetap sama dengan mereka yang miskin. Lambung orang yang gemuk sekali pun cuma mampu menampung 18-3 piring nasi, atau 3-4 buah hamburger plus satu gelas minuman soda.

Lebih dari itu, namanya kelewatan. Dan itu sudah jadi haram, meskipun daging yang mereka makan telah disembelih dengan membaca bismillah seratus kali. Itu sebabnya Islam menganjurkan untuk selalu menenggang tetangga, fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang sulit dapat makanan -- sebelum memikirkan diri sendiri.

Itulah pesan moral agama Islam. Itu sebabnya, kalau kita tidak mampu puasa Ramadhan dan tidak pula mampu menggantinya dengan puasa di hari-hari lain, kita diwajibkan untuk menggantinya dengan memberi makan kepada fakir miskin. Dan haji kita juga tidak diterima, kalau masih ada tetangga kita yang kelaparan.



Sumber: Republika.co.id
loading...