Awal Mula Zaid bin Tsabit Menjadi Sekretaris Nabi Muhammad

Zaid bin Tsabit akhirnya konsen menjadi penghafal Alquran agar selalu dekat Nabi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suatu ketika, Rasulullah mengumpulkan pasukan di Madinah untuk berjalan ke selatan. Kekasih Allah itu memeriksa satu per satu prajuritnya untuk memastikan apakah sudah siap atau belum. Tiba-tiba Nabi menghentikan geraknya. Dia menatap seorang pemuda yang masih berusia belasan tahun.

Badannya lebih kecil dibandingkan dengan prajurit lain. Dialah Zaid bin Tsabit. Meski bertubuh kecil, Zaid mengaku memiliki semangat besar untuk memerangi musuh-musuh Islam demi menegakkan panji Allah. Semangat itu ditunjukkannya dengan membawa pedang berukuran lebih besar dari badannya.

Zaid pun mendatangi Rasulullah. "Aku mengabdikan diriku untukmu, wahai utusan Allah, izinkan aku tinggal bersama Anda untuk melawan musuh-musuh di bawah panji-panjimu, ya Rasul," kata dia.

Rasul menatapnya dengan kagum dan menepuk bahunya dengan kelembutan. Bagaimanapun, Nabi menolak Zaid karena masih terlalu muda. Pemuda itu menundukkan kepala, lalu berjalan pergi. Dia memperlihatkan kekecewaan dengan menancapkan pedangnya ke tanah sambil berjalan lambat.

Di belakangnya saat itu adalah sang ibu, Nawat binti Malik. Perempuan ini pun merasakan kesedihan yang sama. Ibunda Zaid sangat ingin melihat anaknya pergi bersama tentara mujahid dan bersama Nabi.

Satu tahun kemudian, Zaid kembali mengajukan diri menjadi bagian dari tentara Muslim. Saat itu persiapan sedang dilakukan untuk mengadakan pertemuan dengan kaum Quraisy di Uhud. Sekelompok remaja Muslim mendekati Rasulullah lengkap dengan senjata perang berbagai jenis, seperti pedang, tombak, busur panah, dan perisai.

Mereka ingin menjadi tentara untuk menegakkan panji Allah. Di antara mereka adalah Rafi bin Khadij dan Samurah bin Jundub yang memiliki perawakan kuat dan telah cukup usia untuk memegang senjata. Keduanya diizinkan Rasulullah bergabung dengan pasukan lain.

Berbeda dengan Abdullah bin Umar dan Zaid bin Sabit, keduanya masih terlalu muda dan lagi-lagi dianggap belum cukup umur untuk ikut berperang. Rasul berjanji untuk mempertimbangkan mereka menjadi prajurit pada perang lain.

Saat usianya menginjak 16 tahun, sesuai janji Rasul, dia diizinkan berperang. Akhirnya dia membela kaum Muslimin saat Perang Khandaq. Pada saat ikut berperang, Zaid menyadari betapa sulitnya menegakkan panji kebesaran Islam.

Menjadi Penghafal

Zaid kemudian berpikir untuk mencari jalan perjuangan lain yang tak harus memiliki batasan usia, tetapi tetap dekat dengan Rasulullah.

Caranya adalah dengan menghafal Alquran. Sang ibu sangat senang dan ingin anaknya menjadi penghafal Alquran. Sang ibu pun berbicara dengan beberapa orang Anshar tentang keinginan anaknya. Kemudian, dia membicarakan masalah ini dengan Rasulullah.

"Wahai Rasul Allah, anak kami Zaid telah menghafal tujuh belas surah dari Kitab Allah dan membacakannya sama seperti diwahyukan kepadamu. Selain itu, dia piawai membaca dan menulis. Dengan ini dia berusaha ingin dekat dengan Anda," kata mereka menerangkan.

Rasul pun mendengarkan Zaid membaca beberapa surah. Bacaannya jelas dan indah. Nabi merasa senang. Zaid mendapatkan pujian karena kemampuannya menghafal Alquran dengan cepat dan menulis dengan baik. Kemampuan itu tak dimiliki banyak orang ketika itu.



Sumber: Republika.co.id
loading...