Berhitung untuk Masa Depan

TAK ada orang yang mau rugi. Semuanya ingin untung, untung di dunia dan untung di akhirat. Tentang untung di dunia sepertinya semua sudah paham. Ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Sayangnya, seringkali banyak yang tertipu hasrat diri sehingga memilih jalan curang dan menipu. Berhasilkah? Tentang ini saya tak perlu membahasnya.

Kali ini saya ingin berbincang tentang untung di negeri akhirat, negeri yang penuh keadilan, tak ada tipu-tipu dan tak ada juga yang terdzalimi. Semua orang akan mendapatkan balasan atas apa yang dilakukan dan diusahakan. Bagaimanakah dengan nasib kita kelak? Termasukkah orang yang beruntung di akhirat? Semoga dan semoga.

Setiap orang, nanti di akhirat, timbangan amal kebaikannya akan diisi dengan setiap amal kebaikan yang dilakukannya. Kecuali orang yang disamping baik ternyata juga mengajak orang lain menuju kebaikan. Orang seperti ini, timbangan kebaikannya akan diisi pula dengan kebaikan orang yang berbuat baik karena ajakannya. Rasulullah bersabda: "Orang yang menunjukkan kebaikan adalah mendapatkan pahala seperti orang yang melaksanakan kebaikan itu." Begitu beruntungnya mereka yang mengajak kebaikan pada orang lain.

Setiap orang yang melakukan perbuatan jahat pasti timbangan amalnya akan diisi oleh dosa kejahatannya itu. Namun, orang yang berbuat jahat dan mengajak orang lain atau menyebabkan orang lain berbuat jahat maka timbangannya akan dipenuhi oleh dosa dirinya dan dosa orang yang berbuat dosa karenanya. Karena itulah maka Rasulullah memperingatkan kita agar tidak menjadi orang sesat yang menyesatkan. Begitu ruginya dia, dosa bertumpuk tanpa diduga.

Jadilah pengajak kebaikan, jadilah penebar kebaikan, jadilah penanam kebaikan agar di manapun dan kapanpun kita berada kita akan menuai buah kebaikan itu. Sayyidina Umar bin Khattab berkata: "Berhitunglah untuk dirimu sebelum dirimu dihitung." Kira-kira kita termasuk yang untung apa yang buntung? Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...