Di Masa Utsmaniyah, Banyak Muslimah Dalami Ilmu Kedokteran

Pada era kekhalifahan Turki Utsmani sudah mulai banyak perempuan menjadi dokter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sejarah perdaban Islam, banyak rumah sakit yang didirikan oleh kaum perempuan. Para perempuan pendiri rumah sakit di era kekhalifahan itu, biasanya adalah istri, anak perempuan, atau ibu dari para sultan. Meski demikian, biasanya seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit adalah laki-laki.

Namun, pada masa Kesultanan Turki Utsmani, banyak wanita yang mendalami ilmu kedokteran dan terjun langsung menangani pasien. Kemudian, bermunculanlah dokter-dokter wanita di Turki.

"Pada era kekhalifahan Turki Utsmani sudah mulai banyak perempuan yang berprofesi sebagai dokter. Mereka sudah berpraktik, baik di dalam istana kesultanan maupun di luar istana," kata Nil Sari, guru besar pada Fakultas Kedokteran Cerrahpahsa, Universitas Istanbul, Turki dalam sebuah penelitiannya.

Para dokter perempuan Muslim di era keemasan Turki Utsmani mempelajari ilmu kedokteran dari ibu mereka, yang juga dokter. Para perempuan pada era itu juga sudah banyak yang bisa meracik obat-obatan. Fakta ini membuktikan betapa perempuan telah mendapatkan tempat untuk menduduki profesi penting dalam kehidupan sosial.

Keberadaan dokter wanita di Turki terekam dalam manuskrip abad ke-15 tentang pembedahan. Dalam manuskrip tersebut, dokter wanita dan laki-laki memiliki sebutan berbeda. Dokter wanita disebut tabibe, sedangkan dokter laki-laki disebut tabib.

Dalam naskah tersebut dijelaskan, tabibe sudah mampu melakukan operasi ginekologi seperti kelainan alat reproduksi wanita, hermaprodit, wasir,  penyakit papilloma, dan penyakit kelamin lainnya. 

Manuskrip itu juga menyebut-nyebut profesi bidan. Pada masa itu, bidan disebut kabile. Ia bertugas menolong wanita melahirkan, membantu mengeluarkan janin ketika si ibu tidak melahirkan secara normal, menangani kelainan pada anus, dan menolong wanita yang mengalami keguguran.



Sumber: Republika.co.id
loading...